Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Tokyo – Ryunosuke Akutagawa (1 Maret 1892 – 24 Juli 1927), tercatat dalam sejarah literatur sebagai salah satu sastrawan cerita pendek paling berpengaruh di Jepang.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan karyanya, nama Akutagawa resmi diabadikan menjadi Penghargaan Sastra Akutagawa (Akutagawa Prize) oleh rekannya, Kan Kikuchi, pada tahun 1935.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sepanjang kariernya, Akutagawa berfokus pada format cerita pendek dan tercatat tidak pernah menulis novel panjang hingga selesai. Dua proyek novelnya, Jashūmon dan Rojō, berstatus belum rampung hingga akhir hayatnya.
Karya-karya cerpen unggulannya, seperti Imogay, Yabu no Naka (In the Thicket), Jigokuhen, dan Haguruma, diketahui mengambil banyak inspirasi dari naskah literatur klasik Jepang, yakni Konjaku Monogatarishu dan Uji Shui Monogatari.
Selain fiksi dewasa, Akutagawa juga berkontribusi pada sastra anak melalui cerita Kumo no Ito (Spider Webs) dan Toshishun. Jejak karya Akutagawa turut memberi dampak besar pada industri perfilman global.
Pada tahun 1950, sutradara Akira Kurosawa merilis film legendaris Rashomon yang diadaptasi dari karya sang sastrawan, meskipun sebagian besar premis naratif film tersebut sebenarnya diambil dari cerpen Yabu no Naka.
Perjalanan hidup Akutagawa berakhir tragis. Ia ditemukan meninggal dunia pada usia 35 tahun akibat overdosis obat. Sebelum wafat, ia meninggalkan sebuah pesan terakhir yang merangkum kondisi psikologisnya saat itu, dengan judul Hanya Kegelisahan yang Usulnya Tidak Jelas. (*)






