Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Kepolisian Sektor (Polsek) Sukarame mengamankan tiga orang terduga pelaku penganiayaan terhadap Ikhwan Azzahro (20), seorang atlet tinju asal Lampung.
Tindak pidana tersebut terjadi di kompleks Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Gedung Olahraga PKOR, Perumnas Way Halim, Bandar Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolsek Sukarame, Kompol HD Pandiangan, mengonfirmasi penangkapan tersebut. Ia menyatakan ketiga terduga pelaku yang berinisial R, D, dan B saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif.
”Ada tiga yang kita amankan, yakni R, D, dan B. Namun, belum semuanya berstatus tersangka karena masih dalam tahap pengembangan untuk mengetahui peran masing-masing,” ungkap Pandiangan.
Meski demikian, pihak kepolisian telah mengerucutkan dugaan kuat kepada satu orang sebagai pelaku utama, yakni tersangka berinisial RS. RS diduga sebagai pihak yang menyerang korban menggunakan senjata tajam berupa cangkul.
”Yang satu sudah teridentifikasi perannya, yaitu yang mengayunkan dan menggunakan cangkul. Dua lainnya masih kita dalami keterlibatannya,” tambahnya.
Pandiangan menegaskan, status RS akan segera ditingkatkan menjadi tersangka setelah penyidik merampungkan penyatuan keterangan saksi dan alat bukti. Sementara itu, dua orang lainnya masih berstatus sebagai saksi terperiksa.
Lebih lanjut, Kapolsek menjelaskan bahwa ketiga terduga pelaku merupakan warga sipil yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan PKOR. Mereka diketahui bekerja serabutan sebagai petugas kebersihan dan membantu keluarga yang memiliki warung di area tersebut.
Hingga kini, Unit Reskrim Polsek Sukarame masih menyelidiki motif pasti dari pengeroyokan tersebut.
Sebagai informasi, korban Ikhwan Azzahro merupakan atlet tinju yang sedang menjalani pemusatan latihan untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri 2026 di Manado.
Ia mengalami luka serius di bagian kepala dan tangan akibat serangan cangkul tersebut. Berdasarkan dugaan sementara, insiden penganiayaan ini dipicu oleh perselisihan antara sekelompok warga dan atlet yang terjadi beberapa hari sebelum kejadian. (*)






