Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mengungkapkan bahwa fenomena Madden–Julian Oscillation (MJO) menjadi penyebab utama hujan ekstrem yang memicu banjir di Bandar Lampung dan Lampung Selatan pada Jumat (6/3) sore.
Prakirawan BMKG Lampung, Pebri Surgansyah, mencatat curah hujan tertinggi mencapai 162,4 mm. Angka ini dikategorikan sebagai intensitas sangat tinggi atau ekstrem yang secara langsung berdampak pada luapan air di sejumlah wilayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Pebri, terdapat beberapa faktor meteorologis yang bekerja secara bersamaan sehingga menciptakan kondisi cuaca buruk di wilayah Lampung, antara lain:
1. Aktivitas MJO, saat ini MJO berada pada fase 5 (Maritime Continent) di wilayah Lampung, yang meningkatkan suplai uap air dan memperkuat pertumbuhan awan konvektif.
2 Dinamika Angin, terdeteksi adanya belokan angin serta konvergensi (pertemuan angin) yang menyebabkan penumpukan massa udara secara signifikan.
3. Awan Konvektif, kondisi tersebut mendukung terbentuknya awan hujan yang masif di wilayah terdampak.
Peringatan Dini dan Wilayah Berpotensi
BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat dan angin kencang untuk tiga hari ke depan. Berikut sebaran wilayahnya:
Waktu dan Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat
7 Maret 2026
Hampir seluruh wilayah Lampung, termasuk Bandar Lampung, Lampung Selatan, Metro, dan Mesuji.
8 Maret 2026
Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pesisir Barat.
9 Maret 2026
Pesawaran, Pringsewu, Pesisir Barat, Way Kanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur.
Pihak BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak ikutan dari cuaca ekstrem ini, seperti banjir, genangan air, tanah longsor, hingga pohon tumbang akibat angin kencang.






