Prediksi 4 Hari Meleset Total! Ini Alasan Amerika Kini Ketar-ketir Hadapi Perlawanan Iran

- Editor

Sabtu, 7 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Teheran – Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan memasuki fase baru setelah sepekan berlangsungnya kontak senjata. Memasuki hari ketujuh pada Jumat (6/3/2026), indikasi peralihan dari serangan udara menuju operasi serangan darat mulai menguat di wilayah perbatasan barat Iran.

Berdasarkan laporan intelijen dari Armed Conflict Location and Event Data (ACLED) dan Institute for the Study of War (ISW), serangan udara AS dan Israel kini mulai menyasar pos penjaga perbatasan serta instalasi keamanan internal Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari doktrin militer untuk pembersihan jalur sebelum melakukan infiltrasi pasukan darat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah dimobilisasi ke titik-titik strategis dan diperintahkan untuk mengevakuasi beberapa kota perbatasan sejak 3 Maret lalu. Araghchi memperingatkan bahwa invasi darat akan menjadi “bencana” bagi pasukan AS dan Israel.

“Kami telah bersiap untuk perang jangka panjang. Bagi Amerika yang mengendalikan perang dari belahan dunia lain, ini akan jauh lebih sulit daripada bagi kami,” ujar Menlu Iran.

Sementara itu, laporan dari majalah Politico menyebutkan, jika Pentagon tengah mempersiapkan skenario perang selama 100 hari atau sekitar tiga bulan, yang diprediksi dapat berlanjut hingga September 2026.

Durasi ini melampaui prediksi awal pemerintahan Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang meyakini serangan intensif hanya akan berlangsung selama empat hari.

Selain kekuatan militer konvensional, muncul indikasi bahwa AS dan Israel akan memanfaatkan kelompok perlawanan Kurdi sebagai elemen serangan darat untuk merongrong rezim dari dalam.

Namun, para analis menilai strategi ini sangat berisiko mengingat medan Iran yang didominasi pegunungan, yang menjadi tantangan besar bagi operasi kavaleri dan logistik tank darat.

Hingga saat ini, strategi AS dan Israel tampak lebih condong pada upaya melumpuhkan infrastruktur militer dan ekonomi guna memicu perubahan rezim (regime change), dibandingkan melakukan pendudukan darat secara konvensional yang membutuhkan biaya dan waktu yang besar. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Bandara Arab Saudi Diserang Rudal, 12 Tewas dan 309 Luka, Bandara Lumpuh Total!
Jadi Tentara Bayaran Rusia, WNI Asal Natuna Tewas Dihantam Drone Ukraina!
Sempat Mangkrak 2 Dekade, Proyek Tambang Rp268 T Ini Disulap Trump Jadi Pabrik Baja Terbesar AS!
Viral! Pria Kanada Kembali Prediksi Gempa Dahsyat di RI dalam Waktu Dekat, Ini Respons Tegas BMKG!
Serukan Kemerdekaan Palestina, Media Israel Sindir Prabowo: Setahun Lalu Dukung Kami Sekarang Teriak ‘Free Palestine’
Netanyahu dan Warga Israel Gelar Doa Bersama di Komplek Masjidil Aqsa, Arab Saudi Meradang!
Intelijen Iran Unit 4.000 IRGC Bidik Pelabuhan Tanjung Priok, Tiga WNI Dilaporkan Direkrut
Aniaya Staf, Istri Presiden RI Pertama Ini Dituntut Jaksa Tokyo Denda Rp22,8 Juta! 
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Bandara Arab Saudi Diserang Rudal, 12 Tewas dan 309 Luka, Bandara Lumpuh Total!

Rabu, 30 September 2026 - 09:56 WIB

Jadi Tentara Bayaran Rusia, WNI Asal Natuna Tewas Dihantam Drone Ukraina!

Rabu, 30 September 2026 - 09:07 WIB

Sempat Mangkrak 2 Dekade, Proyek Tambang Rp268 T Ini Disulap Trump Jadi Pabrik Baja Terbesar AS!

Selasa, 22 September 2026 - 11:37 WIB

Viral! Pria Kanada Kembali Prediksi Gempa Dahsyat di RI dalam Waktu Dekat, Ini Respons Tegas BMKG!

Senin, 21 September 2026 - 12:43 WIB

Serukan Kemerdekaan Palestina, Media Israel Sindir Prabowo: Setahun Lalu Dukung Kami Sekarang Teriak ‘Free Palestine’

Berita Terbaru