Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Washington – Warga Amerika Serikat dilaporkan ramai-ramai memasang taruhan terkait prediksi terjadinya ledakan bom nuklir sebelum tahun 2027.
Total uang yang dipertaruhkan melalui platform pasar prediksi berbasis kripto, Polymarket, kini telah melampaui US$ 830.000 atau sekitar Rp14 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, lonjakan tajam terhadap minat taruhan ini dipicu oleh eskalasi geopolitik terbaru, tepatnya setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada akhir pekan lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebelum adanya serangan ke Iran, nilai taruhan untuk prediksi “ledakan nuklir” ini hanya berkisar di angka US$ 10.000 (sekitar Rp 169 juta).
Namun pada hari Selasa, volume perdagangan harian tiba-tiba melonjak di atas US$ 244.000, hingga mengakumulasi total taruhan mencapai lebih dari US$ 830.000.
Pasar prediksi mengenai ledakan nuklir ini sebenarnya telah ada di Polymarket sejak November tahun lalu dan sempat dipromosikan oleh akun resmi platform tersebut dengan klaim peluang ledakan sebesar 22 persen.
Namun, di tengah melonjaknya volume taruhan, pihak Polymarket kini secara diam-diam telah menghapus pasar prediksi tersebut.
Langkah ini dinilai tidak biasa, mengingat platform itu umumnya membiarkan berbagai pasar taruhan kontroversial tetap beroperasi.
Selain taruhan nuklir, aktivitas mencurigakan lain juga ditemukan di Polymarket. Bloomberg melaporkan sebanyak enam akun berhasil meraup keuntungan hingga US$ 1,2 juta (Rp 27 miliar) setelah bertaruh mengenai waktu spesifik serangan militer AS ke Iran.
Keenam akun yang baru dibuat pada bulan Februari tersebut diketahui baru memasang taruhan beberapa jam sebelum AS membombardir Iran.
Satu-satunya riwayat aktivitas akun-akun tersebut di platform hanyalah bertaruh bahwa Presiden AS Donald Trump akan menyerang Iran.
Pola aktivitas taruhan yang janggal ini serupa dengan yang terjadi ketika operasi penculikan Nicolas Maduro dari Venezuela beberapa waktu lalu. (*)






