Caption : ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Dibalik deru kesibukan kawasan pelabuhan Tanjung Priok, terselip sebuah kisah yang mendobrak kemapanan berpikir kita tentang profesi satuan pengamanan.
Adalah Khoirul Anam, S.M., S.Pd., M.M., CHRMP, sosok yang membuktikan bahwa seragam safari dan kewaspadaan fisik bukanlah penghalang bagi tajamnya nalar intelektual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Baru-baru ini, jagat pengamanan Indonesia mencatatkan sejarah baru. Khoirul Anam, anggota satpam BRI Tanjung Priok, resmi dianugerahi Rekor MURI 2026 sebagai “Anggota Satuan Pengamanan dengan Karya Ilmiah Terbanyak”.
Sebuah pencapaian perdana yang menegaskan bahwa di balik sikap sigap menjaga pintu banking hall, terdapat kedalaman pemikiran yang produktif.
Perjalanan literasi Anam tidak tumbuh dari ruang hampa. Ia bermula dari kedisiplinan sederhana, mencatat laporan tugas harian. Di tangannya, rutinitas administratif itu bermetamorfosis menjadi artikel ilmiah dan buku-buku nasional yang bernas.
Ia memegang teguh sebuah prinsip hidup yang melampaui usia biologisnya. “Jadilah manusia yang karyanya tetap mengalir meski napas telah berhenti,” ujarnya.
Bagi Anam, disiplin menjaga keamanan bank dan disiplin menulis adalah dua sisi dari koin yang sama. Keduanya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan dedikasi tanpa henti.
Warisan Intelektual untuk Bangsa
Anam bukanlah akademisi dadakan, Portofolio pendidikannya menunjukkan dahaga akan ilmu yang luar biasa, melintasi berbagai disiplin profesi, yakni Sarjana Manajemen (Universitas Pamulang), Sarjana Pendidikan Agama Islam (STIT Bustanul Ulum, Lampung Tengah) dan Magister Manajemen (Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma)
Gelar-gelar tersebut bukan sekadar hiasan di belakang nama, melainkan fondasi dari puluhan karya yang kini diakui negara.
Hingga saat ini, jejak literasi yang ditinggalkan Anam sangatlah masif dan terus bertumbuh:
1. 3 Karya Ilmiah yang menjadi dasar pengukuhan Rekor MURI.
2. 8 Judul Buku yang telah beredar secara nasional dan terdaftar resmi di Perpustakaan Nasional (ISBN).
3. Proses Kreatif Berkelanjutan, dua karya ilmiah sedang dalam tahap publikasi kampus, serta tiga buku kolaborasi bersama Kementerian Kebudayaan yang segera menyapa pembaca.
Kisah Khoirul Anam adalah teguran halus bagi kita semua, bahwa keterbatasan profesi hanya ada dalam pikiran. Di tangan seorang pejuang literasi, pena bisa sama kuatnya dengan raga dalam menjaga marwah sebuah bangsa. (*)






