Caption : ist
Hariannarasi.com, Tokyo – Pemerintah Jepang melalui Tokyo Electric Power (TEPCO) resmi menjadwalkan pengaktifan kembali reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa pada 9 Februari 2026. PLTN yang berlokasi di Prefektur Niigata ini merupakan fasilitas nuklir terbesar di dunia yang telah berhenti beroperasi selama hampir 15 tahun.
Kepala Pembangkit Kashiwazaki-Kariwa, Takeyuki Inagaki, mengonfirmasi rencana reaktivasi tersebut setelah sebelumnya sempat tertunda akibat kendala teknis pada sistem alarm. Ia memastikan bahwa gangguan tersebut telah diatasi dan tidak memengaruhi aspek keamanan operasional pembangkit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami berencana untuk menghidupkan reaktor pada 9 Februari. Gangguan sebelumnya terkait dengan pengaturan alarm dan tidak memengaruhi pengoperasian pembangkit yang aman,” ujar Inagaki sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (6/2).
Fasilitas Kashiwazaki-Kariwa memiliki tujuh reaktor dan menjadi bagian dari puluhan PLTN yang ditutup massal pasca-tragedi gempa dan tsunami 2011 di Fukushima Daiichi.
Langkah menghidupkan kembali reaktor ini merupakan bagian dari strategi nasional Jepang untuk memperkuat keamanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil yang mahal.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mendukung penuh reaktivasi nuklir guna menekan biaya impor energi fosil yang saat ini menyumbang sekitar 60-70 persen pasokan listrik negara tersebut.
Selain itu, peningkatan kapasitas listrik diperlukan untuk mendukung ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI data centers) yang membutuhkan daya besar.
Meskipun mendapat dukungan pemerintah, langkah ini masih menghadapi tantangan dari masyarakat setempat. Untuk meredam kekhawatiran publik, TEPCO telah berkomitmen menggelontorkan investasi sebesar 100 miliar yen (sekitar Rp10,8 triliun) ke Prefektur Niigata selama sepuluh tahun ke depan sebagai bentuk kompensasi dan jaminan keamanan.
Hingga saat ini, Jepang baru mengaktifkan kembali 14 dari 33 reaktor nuklir yang secara teknis masih layak beroperasi di seluruh negeri. (*)






