Sepanjang Januari 2026, Lebih dari 2.000 Siswa dan Santri Keracunan Massal MBG!

- Editor

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist (Dok. UGM, Antara dan BBC)

Hariannarasi.com, Jakarta – Sepanjang Januari 2026, angka statistik tidak lagi sekadar angka, ia adalah rintihan ribuan pelajar di ruang-ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan puskesmas. 

Data yang dihimpun menunjukkan 2.000 lebih siswa di berbagai penjuru Indonesia menjadi korban keracunan massal setelah menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mengapa program nasional dengan anggaran raksasa ini terus memakan korban?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta di lapangan menemukan bahwa dibalik ambisi swasembada gizi, terdapat mata rantai penyediaan makanan yang rapuh, mulai dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga ke tangan siswa.

Temuan mengejutkan muncul di Kudus, Jawa Tengah. Investigasi lapangan mengungkap adanya dugaan tekanan politik di balik pemilihan vendor makanan.

Sebuah sekolah menengah atas yang sebelumnya bermitra dengan penyedia jasa berpengalaman selama berbulan-bulan tanpa kendala, dilaporkan dipaksa berpindah ke SPPG baru yang baru beroperasi hitungan pekan atas intervensi oknum tertentu. Hasilnya fatal, lebih dari 500 siswa dan guru jatuh sakit dalam semalam.

“Ini bukan sekadar soal kebersihan tangan, ini soal bagaimana vendor dipilih,” ujar salah satu sumber internal yang enggan disebutkan namanya. “Ada aroma paksaan dalam kontrak-kontrak pengadaan ini,” imbuhnya.

Baru-baru ini, kejadian keracunan massal juga terjadi di Lampung Timur, ratusan siswa sekolah dan santri di Kecamatan Marga Tiga diduga mengalami keracunan massal pasca menyantap menu MBG.

Sejumlah korban dilaporkan harus menjalani perawatan intensif di klinik kesehatan setempat akibat gejala mual dan nyeri perut yang dialami.

SOP Amburadul

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengakui adanya ketidakpatuhan fatal terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Penelusuran kami terhadap 10 dapur SPPG yang kini ditutup sementara menunjukkan pola yang sama, penggunaan bahan baku yang tidak segar demi mengejar margin keuntungan dan pengabaian suhu penyimpanan,” kata Dadan.

Bakteri Salmonella, E.coli, hingga Bacillus cereus ditemukan dalam sampel makanan di berbagai lokasi seperti Grobogan, Mojokerto, hingga Manggarai Barat.

Bakteri-bakteri ini bukanlah kontaminan yang sulit dicegah, melainkan tanda nyata dari sanitasi yang buruk dan manajemen rantai dingin (cold chain) yang tidak berjalan.

Celah Pengawasan

Masalah utama lainnya terletak pada transparansi hasil laboratorium. Di beberapa daerah, seperti Tuban dan Cianjur, publik seringkali hanya diberitahu bahwa “sampel sedang diuji,” namun hasilnya jarang dipublikasikan secara terbuka kepada orang tua siswa.

Tanpa adanya public disclosure yang jujur, vendor yang bermasalah berpotensi terus beroperasi di bawah radar.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menegaskan bahwa ini adalah bentuk kelalaian negara.

“Setiap korban adalah tubuh anak yang muntah, pusing, dan trauma. Negara tidak boleh hanya bicara soal angka, tapi harus bicara soal pertanggungjawaban hukum bagi pengelola yang lalai,” ujar Ubaid.

Evaluasi atau Sekadar Janji?

​Meskipun pemerintah telah menghentikan operasional puluhan dapur dan menahan insentif vendor, kasus terus berulang di lokasi baru. Hal ini mengindikasikan bahwa masalahnya bukan pada insiden tunggal, melainkan pada pengawasan sistemik yang bocor.

Hingga laporan ini diturunkan, ribuan orang tua masih dihantui kecemasan setiap kali anak mereka membuka kotak makan siang di sekolah.

Selama mekanisme penunjukan vendor masih dibayangi kepentingan non-teknis dan pengawasan kualitas hanya bersifat reaktif, piring-piring di sekolah akan tetap menjadi ancaman ketimbang berkah gizi. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Unila Buka Seleksi S-2 dan S-3, Ada Nama Gubernur dan Wagub Lampung di Daftar Peserta? Cek Faktanya!
Kemendikdasmen: 80 Ribu Guru Pensiun Tiap Tahun, Tenaga Honorer Diminta Tidak Dirumahkan
Buka 31 Prodi, Ini Cara dan Syarat Pendaftaran UM-PTKIN di UIN RIL
Pemkab Tanggamus Tarik UGM Demi Transformasi Pendidikan dan Pengabdian
Mutasi Besar-besaran! Disdikbud Lampung Rombak 51 Kursi Kepala SMA dan SMK Negeri, Ini Daftar Sekolahnya!
Gubernur Lantik Dewan Pendidikan Lampung 2025-2030, Fokus Tekan Angka Putus Sekolah
Sah Jadi Maba! 5.153 Orang Lolos SPAN-PTKIN UIN Raden Intan 2026
Renovasi SDN 1 Talang Padang Telan Dana Rp1,88 Miliar, Tapi Kualitas Bikin Tepok Jidat?!
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 05:47 WIB

Unila Buka Seleksi S-2 dan S-3, Ada Nama Gubernur dan Wagub Lampung di Daftar Peserta? Cek Faktanya!

Jumat, 17 April 2026 - 06:58 WIB

Kemendikdasmen: 80 Ribu Guru Pensiun Tiap Tahun, Tenaga Honorer Diminta Tidak Dirumahkan

Rabu, 15 April 2026 - 16:57 WIB

Buka 31 Prodi, Ini Cara dan Syarat Pendaftaran UM-PTKIN di UIN RIL

Rabu, 15 April 2026 - 11:20 WIB

Pemkab Tanggamus Tarik UGM Demi Transformasi Pendidikan dan Pengabdian

Selasa, 14 April 2026 - 10:06 WIB

Mutasi Besar-besaran! Disdikbud Lampung Rombak 51 Kursi Kepala SMA dan SMK Negeri, Ini Daftar Sekolahnya!

Berita Terbaru