Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Guna memutus rantai antrean layanan forensik yang selama ini menghadapi realita pahit, di mana penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak kerap berjalan lamban.
Gubernur Lampung menakar jika masalah forensik khususnya di Lampung belum memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Saat ini, Provinsi Lampung hanya bernapas dengan empat unit fasilitas forensik, dua di RS Bhayangkara dan dua di RSUDAM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka yang timpang jika dibandingkan dengan beban kasus kriminalitas dan kekerasan yang terus mengalir. “Keadilan yang tertunda adalah ketidakadilan,” tutur Mirza.
Ia menegaskan bahwa penguatan layanan forensik di RSUDAM bukan lagi sekadar rencana, melainkan keharusan agar korban mendapatkan kepastian hukum secara cepat, tepat, dan berkeadilan.
Selain urusan hukum, kesehatan preventif dan gaya hidup medis juga menjadi bidikan. RSUDAM diproyeksikan bakal naik kelas dengan menghadirkan layanan Laser-Assisted in Situ Keratomileusis (LASIK) pada tahun 2026 ini.
Sebuah langkah strategis untuk menjadikan rumah sakit plat merah ini sebagai rujukan utama kesehatan mata di Sumatra bagian selatan.
Direktur RSUDAM, dr. Imam Ghozali, mengungkapkan bahwa ambisi ini tinggal menghitung hari. Persiapan fisik ruangan dan kesiapan tenaga medis diklaim sudah mencapai titik final.
“Mata adalah investasi terbesar sepanjang hidup,” ujar Imam Ghozali seraya menegaskan komitmen bahwa RSUDAM tidak hanya ingin menjadi tempat pengobatan, tetapi juga pusat peningkatan kualitas hidup masyarakat Lampung.
Poin Utama Transformasi RSUDAM:
- Akselerasi Forensik, penambahan personel dan alat untuk memangkas waktu tunggu visum dan pemeriksaan korban kekerasan.
- Target Peresmian LASIK, direncanakan meluncur pada Februari 2026.
- Modernisasi Layanan, menjawab tingginya permintaan masyarakat akan prosedur medis non-kacamata.
Dengan dua langkah besar ini, mempercepat keadilan forensik dan memodernisasi layanan mata, RSUDAM kini tengah menjadi sorotan publik untuk membuktikan bahwa pelayanan kesehatan di Lampung memang sedang bertransformasi ke arah yang lebih manusiawi. (*)






