Caption : ist
Hariannarasi.com, Tanggamus – Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menjadi garda terdepan dalam merespons isu nasional pembalakan liar, menghadapi tantangan berat di tengah keterbatasan personel dan luasnya kawasan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Wakil Humas TNBBS Derri, terungkap strategi konservasi yang diterapkan, termasuk sistem patroli, dukungan anggaran, dan dinamika sumber daya manusia di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini dipicu isu sensitif mengenai penebangan hutan secara ilegal ini menegaskan komitmen TNBBS untuk menjalankan Patroli Smart sebagai agenda rutin yang didanai melalui DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran).
Kawasan konservasi TNBBS membentang sangat luas, mencakup empat kabupaten di dua provinsi, yakni Lampung Barat, Pesisir Barat, Tanggamus, serta Kaur (Bengkulu). Total luasan area ini mencapai sekitar 313.000 hektar.
Untuk mengelola wilayah seluas itu, struktur organisasi TNBBS terbagi menjadi dua bidang, empat seksi, dan 17 resort di lapangan.
Sistem Patroli Tetap yakni Patroli pengamanan rutin dilakukan sebulan sekali, dengan durasi kerja intensif selama 10 hari di dalam hutan.
“Kolaborasi Internasional, dengan upaya ini diperkuat dengan adanya dukungan mitra, seperti LSM internasional WCS (Wildlife Conservation Society), yang ikut turun berdasarkan laporan atau pengajuan,” jelas Wakil Humas TNBBS Derri, Rabu (10/12).
Aktivitas patroli tidak hanya berfokus pada pencegahan pembalakan, tetapi juga mengungkap praktik perburuan liar yang mengancam satwa. Petugas secara konsisten menemukan jerat-jerat yang dipasang pemburu.
”Temuan ini umumnya menargetkan satwa untuk konsumsi, seperti rusa, dan bukan hewan berbobot besar seperti harimau atau gajah. Laporan dari masyarakat pun turut memicu pergerakan petugas, terutama dalam kasus konflik, seperti penemuan jejak harimau yang memerlukan tindak lanjut cepat,” kata dia.
Untuk efisiensi operasional, petugas menggunakan aplikasi khusus guna mendokumentasikan temuan seperti jerat, tapak satwa, atau kegiatan lain di lapangan.
Kesenjangan Sumber Daya Manusia
Derri juga menambahkan, bahwa tantangan konservasi di TNBBS semakin rumit dengan adanya ketidakseimbangan antara luas kawasan dengan jumlah personel pengamanan.
“Total Staf TNBBS memiliki total 128 staf, yang meliputi fungsional seperti Polisi Kehutanan (Polhut), Penyuluh, dan Analis Sistem Hutan,” ujarnya.
Keterbatasan di Lapangan, dari jumlah tersebut, diperkirakan hanya sekitar 60 orang (setengahnya) yang aktif di resort untuk patroli pengamanan, sementara sisanya mengisi fungsi administratif. (*)






