Caption : ist
Hariannarasi.com, Aceh, Sumut, Sumbar – Bencana hidrometeorologi yang menerjang sebagian wilayah Sumatra belakangan ini tidak hanya meninggalkan jejak lumpur dan puing reruntuhan.
Lebih dari itu, banjir bandang ini telah memicu efek domino yang melumpuhkan sendi-sendi ekonomi masyarakat, mulai dari rusaknya infrastruktur vital, lonjakan harga kebutuhan pokok, hingga krisis energi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto, menjelaskan, jika hancurnya infrastruktur jalan dan jembatan adalah pukulan terberat dalam peristiwa ini. Banjir bandang dengan kekuatan destruktifnya telah memutus akses jalan nasional dan jalan provinsi yang selama ini menjadi urat nadi distribusi logistik lintas Sumatra.
“Kerusakan infrastruktur ini bukan sekadar masalah transportasi, melainkan masalah perut rakyat. Ketika roda truk distribusi berhenti berputar, di situlah krisis dimulai,” jelasnya, Senin (1/12).
Kondisi jalan yang ambles dan jembatan yang putus memaksa kendaraan pengangkut logistik memutar haluan atau terhenti total. Akibatnya, rantai pasok (supply chain) terganggu parah, menyebabkan barang menumpuk di satu titik sementara daerah lain mengalami kekosongan stok.
Harga Pangan Meroket
Hukum ekonomi langsung berlaku seketika, saat pasokan terhambat sementara permintaan tetap, harga akan meroket. Di pasar-pasar tradisional, harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) dilaporkan mengalami kenaikan signifikan.
Komoditas sayuran, cabai, dan beras menjadi yang paling terdampak karena sifatnya yang mudah busuk dan sangat bergantung pada kecepatan distribusi.
Masyarakat yang tengah berduka karena bencana kini harus menghadapi kenyataan pahit berupa tergerusnya daya beli akibat inflasi dadakan ini.
Kelangkaan BBM
Situasi diperparah dengan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Terhambatnya armada tangki Pertamina menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah terdampak menciptakan kepanikan (panic buying).
- Antrean Panjang, Pemandangan antrean kendaraan yang mengular hingga ke bahu jalan menjadi lazim.
- Mobilitas Lumpuh, Tanpa BBM, proses evakuasi mandiri, pembersihan pasca-bencana, dan aktivitas ekonomi warga menjadi terhambat.
- Pasar Gelap, Kelangkaan ini dikhawatirkan memicu munculnya spekulan yang menjual BBM eceran dengan harga tidak wajar.
Bencana ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah maupun pusat. Penanganan tidak bisa lagi bersifat reaktif atau sekadar memberikan bantuan mi instan.
Dibutuhkan percepatan perbaikan infrastruktur darurat (jembatan bailey, dll) untuk membuka kembali isolasi wilayah. Tanpa pembukaan jalur logistik secepatnya, ancaman krisis pangan dan energi di Sumatra akan semakin nyata dan berkepanjangan.
Sc : Berbagai Sumber (*)






