Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Bagi Muhammad Suryo, bisnis tak melulu soal kalkulasi laba rugi di atas kertas. Bagi CEO Surya Group sekaligus nahkoda Perusahaan Rokok HS ini, bisnis adalah jalan untuk pulang dan menunaikan janji bakti pada tanah kelahiran.
Di sela riuh rendah antusiasme ribuan penggemar dalam rangkaian konser HS Slank Berani Kita Beda Tour di Bandar Lampung, Sabtu (17/1), Suryo menyampaikan sebuah kabar yang bukan sekadar janji manis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia memastikan pembangunan pabrik rokok HS di Desa Nibung, Kecamatan Gunung Pelindung, Lampung Timur daerah asal usulnya.
Rencana ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan sebuah manuver ekonomi kerakyatan. Diatas lahan seluas dua hektare tersebut, roda produksi ditargetkan mulai berputar pada 2026. Dampaknya tidak main-main, 3.000 tenaga kerja lokal siap diserap.
Suryo hadir dengan antitesis terhadap kakuan dunia industri modern. Saat banyak perusahaan memagari diri dengan syarat pengalaman kerja dan batas usia yang ketat, HS justru membuka pintu lebar-lebar.
“Kalau semua pabrik mensyaratkan pengalaman, kapan orang yang tidak punya pengalaman bisa punya pengalaman?” ujar Suryo.
Pernyataannya sederhana, namun menohok realitas pasar kerja hari ini. Suryo menegaskan bahwa pabrik di Lampung Timur akan menerapkan pola rekrutmen inklusif. Tidak ada syarat pengalaman kerja, tidak ada batasan usia yang kaku, bahkan ijazah sekolah bukan parameter utama.
”Walaupun lulusan SD atau tidak sekolah pun, asalkan punya niat dan mau belajar, saya pikir tidak ada yang tidak bisa,” tegasnya.
Komitmen kemanusiaan Suryo semakin tebal dengan membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas, khususnya tunarungu dan tunawicara.
Ia memandang mereka sebagai aset, bukan beban. “Mereka juga manusia. Kapan mereka bisa bekerja kalau tidak ada perusahaan yang mau menerima?” tambahnya.
Optimisme ini bukan tanpa dasar, Suryo berkaca pada keberhasilan pabrik HS di Magelang. Bermula dari puluhan buruh linting, kini pabrik tersebut telah menjadi ‘rumah’ bagi 4.000 pekerja. Sebuah bukti bahwa kepercayaan dan kesempatan adalah modal terbesar dalam membangun sumber daya manusia.
Efek Domino Ekonomi dan “Local Pride”
Kehadiran pabrik di Desa Nibung diprediksi akan menciptakan multiplier effect (efek berganda) yang signifikan. Ekonomi tidak hanya tumbuh di dalam pagar pabrik, tetapi juga menjalar ke sektor pendukung.
Mulai dari pasokan bahan baku, distribusi, hingga pedagang kecil di sekitar lokasi. “Targetnya tahun depan sudah beroperasi,” janji Suryo.
Ia berharap HS dapat diterima dengan tangan terbuka, selaras dengan filosofi timbal balik yang ia pegang, memberikan yang terbaik agar bermanfaat bagi daerah asal.
Momentum pengumuman ini terasa kian emosional karena berbalut dengan semangat kebudayaan pop yang dibawa oleh Slank. Bandar Lampung menjadi kota kelima dalam tur ini setelah Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali.
Bagi Slank, kolaborasi ini adalah sebuah anomali yang menyenangkan. “Kami sudah lama tidak main di Lampung. Ternyata tangan HS yang bisa menarik pulang Slank ke Lampung,” ujar Kaka, sang vokalis.
Senada dengan itu, Bimbim (Drummer Slank) melihat sosok Suryo sebagai pebisnis yang mengerti local pride. “Pak Suryo paham bagaimana memperlakukan musisi dan industri hiburan. Itu yang bikin kolaborasi ini terasa beda,” nilainya.
Tak sekadar hura-hura, tur ini juga menyisipkan misi kemanusiaan. Dari pelelangan memorabilia berupa Vespa milik Kaka dan bas milik Ivanka, terkumpul dana Rp500 juta yang langsung didonasikan untuk korban bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Hingga 2026, Rokok HS menancapkan target ambisius, menyerap total 10.000 tenaga kerja yang tersebar di Magelang, Yogyakarta, dan Lampung. Sebuah visi besar yang kini mulai diletakkan batu pertamanya di tanah Lampung Timur. (*)






