Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Lampung Timur – Seekor induk harimau Sumatera bersama tiga anaknya kembali muncul di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, pada Oktober 2026.
Momen langka tersebut terekam kamera jebak saat satwa dilindungi itu minum dari bak penampung air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemunculan ini tercatat setahun setelah pertama kali terekam kamera jebak pada April 2025. Jika sebelumnya hanya terpantau keberadaannya, kali ini induk dan tiga anaknya terlihat jelas memanfaatkan bak penampung air yang disediakan petugas.
Data kemunculan tersebut dihimpun dari hasil monitoring kamera jebak yang dipasang petugas Balai TNWK bersama mitra konservasi di sejumlah titik habitat harimau Sumatera.
Terekam Minum dari Bak Penampung di Tengah Musim Kering
Dalam rekaman terbaru, induk harimau Sumatera dengan tiga anaknya terlihat mendekati dan minum dari bak penampung air buatan.
Bak tersebut merupakan bagian dari upaya intervensi petugas dan mitra konservasi untuk membantu satwa liar memenuhi kebutuhan air.
Upaya penyediaan air dilakukan di tengah kondisi musim kering dan ancaman El Niño yang menyebabkan sejumlah sumber air alami di dalam kawasan hutan menyusut.
Petugas menilai keberadaan bak air menjadi vital untuk memastikan satwa tetap bertahan di habitatnya tanpa harus keluar kawasan hutan untuk mencari air.
Indikator Keberhasilan Penjagaan Habitat
Kembalinya induk dan tiga anak harimau Sumatera dalam kondisi sehat dinilai sebagai indikator positif bagi upaya pelestarian di TNWK. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa kritis yang dilindungi dan masuk kategori Critically Endangered.
TNWK sendiri merupakan salah satu benteng terakhir habitat harimau Sumatera di ujung tenggara Pulau Sumatera. Keberlangsungan hidup induk dan anaknya bergantung pada terjaganya tutupan hutan, ketersediaan mangsa, dan terpenuhinya kebutuhan dasar seperti air.
Momen ini menjadi pengingat bahwa perlindungan satwa langka tidak hanya soal pengamanan dari perburuan, tetapi juga memastikan habitat dan kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi. (*)






