Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Jakarta – Ketegangan diplomatik antara Indonesia dan Singapura mulai meruncing usai pemerintah Indonesia mengumumkan kebijakan pemangkasan pasokan gas ekspor ke negara tetangga tersebut mulai Sabtu (24/10/2026).
Kebijakan ini menyusul pernyataan tegas Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, yang sedang mempertimbangkan untuk tidak lagi memperpanjang kontrak ekspor gas negara, khususnya kepada negara yang dinilai memiliki sentimen negatif terhadap Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Merespons manuver energi tersebut, Calvin Cheng Ern Lee, seorang politikus dan mantan anggota parlemen Singapura, melontarkan isyarat balasan yang memicu kontroversi.
Melalui akun media sosial X pribadinya pada Minggu (25/10/2026), Cheng mengunggah sebuah infografis yang menyoroti ketergantungan krusial infrastruktur digital Indonesia terhadap Singapura.
Dalam infografis diklaim bahwa 90 persen lalu lintas rute internet internasional Indonesia harus melewati Singapura.
Unggahan itu disertai dengan keterangan singkat yang provokatif, “Potong?” cuit akun @calvinelcheng.
Terang saja, cuitan tersebut langsung memicu spekulasi luas akan adanya ancaman pemutusan kabel internet bawah laut yang menghubungkan Indonesia ke jaringan global.
Menyadari cuitannya memicu kegaduhan publik, Cheng segera memberikan klarifikasi pada Selasa (27/10/2026). Ia membantah akan merealisasikan ancaman tersebut dengan mengklaim bahwa Singapura merupakan negara yang taat aturan.
“Kami adalah orang-orang yang beradab dan taat hukum. Jelas kami tidak akan melakukan ini (memutus jaringan internet Indonesia),” tegasnya.
Pemerintah RI Angkat Bicara
Menyikapi viralnya unggahan politikus Singapura tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia, Meutya Hafid, langsung angkat bicara.
Berdasarkan unggahan resmi, Menkomdigi mengimbau masyarakat Indonesia untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing emosi.
Meutya Hafid memberikan serangan balik dengan menekankan fakta bahwa posisi kedua negara sejatinya saling bergantung secara geografis dan infrastruktur.
”Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia. Jika terpotong atau dipotong, 80% kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh,” ujar Menkomdigi dengan tegas.
Lebih lanjut, Meutya mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik antarnegara dalam membangun ekosistem digital.
“Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” pungkasnya. (*)






