Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Washington DC –Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembangunan pabrik baja yang diklaim sebagai yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Proyek senilai US$ 15 miliar atau setara Rp 268,6 triliun ini akan digarap oleh perusahaan baja Mesabi Metallics dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2030 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengumuman proyek berskala masif tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Trump di Ruang Oval Gedung Putih.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Perdagangan Howard Lutnick, Menteri Energi Chris Wright, dan Ketua Bank Ekspor-Impor John Jovanovic, bersama petinggi Mesabi Metallics, yaitu CEO Joe Broking dan Komisaris Utama Rewant Ruia.
Menurut informasi dari pejabat Gedung Putih, pabrik baja ini direncanakan akan berlokasi di Iowa.
Proyek tersebut digadang-gadang mampu menyerap hingga 6.000 tenaga kerja di sektor konstruksi pada tahap awal pembangunan.
Kapasitas produksi tahap pertama diperkirakan mencapai 7,5 juta ton per tahun, dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 10 juta ton per tahun dan membuka 1.750 lapangan kerja tetap.
Pihak Mesabi Metallics yang berbasis di Nashwauk, Minnesota, memastikan proyek ini akan menghasilkan 100% produk baja Amerika Serikat.
Seluruh proses produksi, mulai dari penambangan bijih besi di kawasan Iron Range (Minnesota), hingga peleburan dan pencetakan, akan dilakukan di Minnesota dan Iowa.
Perusahaan tambang senilai US$ 2,5 miliar milik Mesabi Metallics sendiri baru kembali beroperasi setelah mangkrak selama dua dekade, termasuk saat proses kepailitan Essar Steel Minnesota pada 2016.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, meyakini proyek ini akan terealisasi sesuai rencana, meskipun ia mengakui, proyek konstruksi berskala besar sangat kompleks dan rentan terhadap berbagai kendala selama pelaksanaannya.
Juru Bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, menambahkan, proyek ini menjadi bukti nyata komitmen Presiden Trump dalam membangun kembali industri baja domestik.
“Presiden Trump menepati janjinya untuk membangun kembali industri Amerika, memulangkan kembali kegiatan manufaktur ke dalam negeri, dan menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Rogers.
Sebelumnya, dalam upaya mendongkrak sektor manufaktur domestik, Trump telah menaikkan tarif impor baja dan aluminium sebesar 25% hingga 50%, yang dinilai sejumlah pihak turut memicu lonjakan harga baja di pasar domestik AS.
Meski menuai kritik, kebijakan tarif tersebut mendapat apresiasi dari sejumlah asosiasi perdagangan baja karena dianggap berhasil mendorong investasi senilai US$ 47 miliar dan mendesak pemerintah agar tidak melonggarkan aturan tarif tersebut. (*)






