Caption : Ist
Hariannarasi.com, Kemiling – Suasana siang yang seharusnya tenang di kawasan Wisma Mas, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, berubah menjadi kacau saat aksi tawuran antar pelajar SMA 7 dan SMA 14 pecah di sekitar Masjid Al Muhajirin, Jumat (22/5) sekitar pukul 13.48 WIB.
Rekaman CCTV yang beredar luas di media sosial menunjukkan puluhan pelajar berlarian di tengah jalan permukiman warga. Beberapa terlihat membawa benda-benda yang diduga senjata tajam dan tongkat, saling mengejar, memukul, dan terlibat adu fisik di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Motor-motor terlihat jatuh dan berhamburan, sementara warga sekitar menyaksikan dengan campuran ketakutan dan kepanikan. Video berdurasi sekitar 40 detik tersebut memperlihatkan bagaimana tawuran pelajar berpindah dengan cepat di sepanjang ruas jalan sempit di antara rumah-rumah penduduk.
Beberapa pelajar berlari, sementara yang lain tampak masih mengenakan seragam sekolah. Suara teriakan dan keributan terdengar jelas di latar belakang rekaman. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun Dinas Pendidikan mengenai penyebab pasti tawuran tersebut.
Motif yang beredar di masyarakat masih bersifat spekulatif, mulai dari persaingan antar sekolah, masalah pribadi yang berlarut, hingga pengaruh geng pelajar yang kerap menjadi masalah di beberapa wilayah Bandar Lampung.
Aksi tawuran yang terjadi di siang hari ini langsung mengganggu aktivitas warga sehari-hari. Beberapa warga terpaksa menutup kios dan rumah mereka karena khawatir menjadi korban salah sasaran, anak-anak yang sedang bermain di sekitar lokasi pun harus segera ditarik masuk.
Seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan, “Ini sudah sering terjadi. Tiap ada tawuran, kami yang resah. Anak-anak kecil bisa kena, orang tua yang sedang lewat juga takut. Harusnya sekolah dan polisi lebih tegas,” ungkapnya.
Meski belum ada laporan korban jiwa, warga berharap aparat segera mengambil tindakan tegas. Mereka menuntut agar pelaku yang terlibat dapat diidentifikasi dan diproses sesuai hukum, serta dilakukan upaya mediasi antar sekolah untuk mencegah eskalasi di masa mendatang.
Tawuran antar pelajar bukan fenomena baru di Bandar Lampung maupun di banyak kota besar di Indonesia. Kasus serupa kerap muncul akibat lemahnya pengawasan sekolah, pengaruh media sosial, hingga kurangnya kegiatan positif di luar jam pelajaran.
Tawuran tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga merusak citra pendidikan dan menciptakan trauma berkepanjangan bagi pelaku, korban, dan masyarakat sekitar. (*)






