Dipicu Kelangkaan Pasokan, Harga Singkong di Lampung Melonjak Tembus Rp2.050 per Kilogram

- Editor

Jumat, 22 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Ist

Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Harga ubi kayu atau singkong di sejumlah pabrik tapioka di Provinsi Lampung dilaporkan melonjak tajam hingga menembus Rp2.000 hingga Rp2.050 per kilogram. 

Kenaikan harga yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini jauh melampaui patokan harga sebelumnya yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung di kisaran Rp1.300 per kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan pasokan bahan baku singkong di tingkat petani. Penurunan pasokan terjadi akibat banyaknya petani yang beralih menanam komoditas lain, seperti jagung dan padi.

Peralihan lahan tersebut merupakan imbas dari anjloknya harga singkong hingga di bawah Rp1.000 per kilogram pada tahun lalu, yang sempat memicu protes dari kalangan petani akibat pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya produksi.

Kini, di tengah menurunnya pasokan, kebutuhan bahan baku dari industri tapioka tetap tinggi sehingga mendorong harga beli pabrik naik secara signifikan.

Dinamika harga komoditas lokal ini juga terjadi di tengah gejolak pangan dunia dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat, sebuah situasi ekonomi makro yang sebelumnya sempat disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto dengan sebutan “orang desa tidak pakai dolar”.

​Berdasarkan data terkini di sejumlah sentra pabrik tapioka di Lampung, harga beli singkong bervariasi dengan penerapan sistem potongan kadar air (refaksi). Rincian harga saat ini adalah sebagai berikut:

  • GB 7 (Lampung Tengah): Rp2.050/kg dengan potongan 15 persen
  • BKM/BX (Lampung Tengah): Rp2.000/kg dengan potongan 12 persen
  • Muara Jaya (Lampung Timur): Rp2.050/kg dengan potongan 15 persen
  • Sinar Laut Kalicinta (Lampung Utara): Rp1.600/kg dengan potongan 15 persen

​Meski harga pembelian di atas kertas tergolong tinggi, para petani di lapangan menyatakan hasil bersih yang mereka terima masih terdampak oleh tingginya persentase potongan refaksi di pabrik.

Selain masalah potongan kadar air, petani juga berharap tren harga tinggi ini tidak bersifat sementara.

Pasalnya, para petani saat ini masih harus menanggung tingginya beban biaya produksi, mulai dari kenaikan harga pupuk, tarif tenaga kerja, hingga kebutuhan pokok sehari-hari. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rupiah Makin Tertekan! Kurs Jual Dolar AS di Sejumlah Bank Tembus Rp17.870
Terciduk! Katanya Bela UMKM, Truk Koperasi Desa Kepergok Angkut Barang dari Gudang Indomarco!
Sorotan Tajam The Economist: Demokrasi dan Ekonomi Indonesia Berada di Ambang Resiko?!
Percepat Pembangunan, Gubernur Lampung Dorong Penerbitan Obligasi dan Sukuk Daerah
BRI Bandar Lampung Imbau Nasabah Waspada Penipuan Digital, Jangan Klik Tautan Sembarangan!
Ketika Rupiah Nyaris Mati! Belajar dari Kejeniusan Habibie Membalikkan Keadaan dalam 17 Bulan
Tekan Inflasi di Daerah, Pemprov Lampung Gelar Operasi Pasar Serentak di 15 Kabupaten dan Kota!
Gubernur Mirza Tutup Festival Syariah Terbesar, Capai Komitmen Pembiayaan Senilai Rp230 M!
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:18 WIB

Dipicu Kelangkaan Pasokan, Harga Singkong di Lampung Melonjak Tembus Rp2.050 per Kilogram

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:59 WIB

Rupiah Makin Tertekan! Kurs Jual Dolar AS di Sejumlah Bank Tembus Rp17.870

Selasa, 19 Mei 2026 - 03:20 WIB

Terciduk! Katanya Bela UMKM, Truk Koperasi Desa Kepergok Angkut Barang dari Gudang Indomarco!

Senin, 18 Mei 2026 - 17:10 WIB

Sorotan Tajam The Economist: Demokrasi dan Ekonomi Indonesia Berada di Ambang Resiko?!

Senin, 18 Mei 2026 - 13:33 WIB

Percepat Pembangunan, Gubernur Lampung Dorong Penerbitan Obligasi dan Sukuk Daerah

Berita Terbaru