Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak ditutup melemah pada perdagangan awal pekan, Senin (26/10/2026).
Depresiasi di pasar keuangan domestik ini dipicu oleh tingginya tekanan eksternal, terutama akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, mata uang rupiah ditutup terperosok ke level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat (AS).
Tekanan nilai tukar ini sejalan dengan melesatnya harga minyak mentah jenis Brent yang menembus level US$114 per barel.
Tingginya harga komoditas energi tersebut memicu sentimen negatif dan kekhawatiran pasar terhadap pembengkakan beban subsidi energi nasional, yang berisiko memperlebar defisit anggaran.
Kelesuan serupa terjadi di pasar modal. IHSG ditutup merosot 66,17 poin atau turun 1,22 persen ke posisi 5.373,09.
Pelemahan indeks memukul rata seluruh sektor saham yang kompak berakhir di zona negatif. Indeks saham berkapitalisasi besar, IDX30, juga turut mencatatkan koreksi sebesar 0,67 persen ke level 304,16.
Secara teknikal, laju IHSG diproyeksikan berpotensi bergerak mendatar (sideways) untuk satu hingga tiga hari perdagangan ke depan, dengan menguji area support di level 5.301,74.
Di tengah tekanan yang melanda pasar saham dan nilai tukar, aset lindung nilai (safe haven) justru mencatatkan pertumbuhan.
Harga komoditas logam mulia emas terpantau naik 0,56 persen menjadi US4.030,20, sementara perak turut menguat 0,25 persen ke level US54,09. (*)






