Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Sulawesi Utara – Aksi demonstrasi mahasiswa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Manado, berakhir dengan kericuhan pada Rabu (17/6/2026).
Aksi unjuk rasa tersebut berujung pada bentrokan fisik antara massa mahasiswa dengan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi demonstrasi ini mulai berlangsung sejak pukul 16.00 WITA. Dalam aksinya, kelompok mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan yang menyoroti isu-isu nasional maupun daerah.
Adapun sejumlah tuntutan yang disampaikan meliputi:
1. menyoroti terkait Koperasi Merah Putih dan isu Hak Asasi Manusia (HAM).
2. Mendesak jaminan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
3. Meminta evaluasi program Trans Manado dan publikasi draf Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW).
4. Menyuarakan penolakan terhadap pengelolaan program MBG oleh pihak kampus.
Ketegangan di lokasi kejadian bermula ketika beberapa peserta aksi mulai menggoyangkan pagar kantor DPRD Sulut. Situasi yang memanas tersebut kemudian memicu aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat.
Kericuhan semakin memuncak saat massa melakukan pelemparan batu, bambu, hingga botol air mineral ke arah area dalam kantor DPRD. Guna mengendalikan situasi yang kian tidak kondusif, pihak kepolisian segera mengambil tindakan tegas pembubaran massa.
Aparat mengerahkan pasukan bertameng, kendaraan water cannon, serta menembakkan gas air mata. Tindakan represif terukur ini memaksa massa mahasiswa mundur hingga sejauh kurang lebih satu kilometer dari titik awal aksi.
Kondisi di sekitar lokasi baru berhasil dikendalikan sepenuhnya oleh pihak keamanan pada sekitar pukul 18.30 WITA. Selama kericuhan berlangsung, petugas sempat mengamankan sejumlah mahasiswa, meskipun pada akhirnya mereka telah dilepaskan kembali.
Akibat bentrokan tersebut, pagar besi di gerbang utama kantor DPRD Sulut dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga roboh. (*)






