Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung mengimbau masyarakat untuk bersiaga menghadapi ancaman krisis air bersih dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peringatan ini dikeluarkan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih panjang dan terik akibat fenomena “Godzilla El Nino”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Analis Bencana BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menyebutkan bahwa awal musim kemarau di Lampung diprediksi mulai masuk pada bulan Mei dan akan mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus 2026.
”Saat ini kita berada di ujung musim hujan. Setelah April, kita akan memasuki masa pancaroba sebelum musim kemarau. Ini berkaitan dengan fenomena yang disebut Godzilla El Nino,” ungkap Wahyu di Bandar Lampung, Senin (6/4/2026).
Ancaman Sektor Pertanian dan Titik Rawan Karhutla
Kondisi anomali cuaca ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi kering yang dapat berdampak fatal pada sektor pertanian.
Sebagai langkah antisipatif, BPBD mendesak para petani untuk segera memanfaatkan program asuransi pertanian melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) guna menekan kerugian finansial akibat risiko gagal panen.
Selain itu, BPBD juga telah memetakan beberapa wilayah di Provinsi Lampung yang masuk dalam kategori titik rawan karhutla selama musim kemarau mendatang, meliputi, Lampung Timur (terutama di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas), Mesuji, Way Kanan, dan Tulang Bawang
Langkah Mitigasi dan Kolaborasi
Menghadapi potensi bencana tersebut, BPBD Provinsi Lampung saat ini terus memperkuat pemantauan cuaca secara real-time dan berkoordinasi intensif dengan BMKG serta BPBD tingkat kabupaten/kota.
Pemerintah daerah diminta untuk segera mengaktifkan program Desa Tangguh Bencana. Di tingkat akar rumput, masyarakat didorong untuk memperkuat deteksi dini kebakaran dengan cara mengaktifkan kembali sistem keamanan keliling (siskamling) di wilayah-wilayah rawan.
“Langkah cepat dari masyarakat sangat penting untuk mencegah api meluas,” tegas Wahyu.
Wahyu menambahkan, rentetan cuaca ekstrem dan kemunculan siklon di wilayah khatulistiwa saat ini merupakan indikasi nyata dari dampak perubahan iklim global. Oleh karenanya,
Dirinya juga menekankan, mitigasi bencana tidak bisa dilakukan secara mandiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan bidang lingkungan hidup, kehutanan, dan kelautan agar berjalan efektif. (*)






