Caption : ist (Dok. YT Daftar Populer)
Hariannarasi.com, Jakarta – Ketegangan di Timur Tengah mencapai babak baru setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan empat rudal balistik yang menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln.
Operasi ini dinyatakan sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam komunike ketujuh terkait “Operasi Janji Sejati 4” (True Promise 4) yang dirilis pada Minggu (1/3/2026), IRGC menyatakan bahwa kekuatan militer mereka telah memasuki fase baru dalam menghadapi musuh.
Pihak Teheran menegaskan bahwa wilayah darat dan laut akan menjadi “kuburan bagi para agresor”.
Kapal induk USS Abraham Lincoln sebelumnya terdeteksi berada di perairan Laut Arab, sekitar 240 kilometer dari lepas pantai Oman atau 700 kilometer dari wilayah Iran.
Kapal bertenaga nuklir ini beroperasi bersama tiga kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke dan membawa sekitar 90 pesawat, termasuk jet tempur siluman F-35.
Bantahan Amerika Serikat
Menanggapi klaim tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeluarkan bantahan keras. Melalui pernyataan resmi pada Minggu (1/3/2026), CENTCOM menyebut klaim IRGC sebagai kebohongan dan menegaskan bahwa USS Abraham Lincoln tidak terkena serangan apa pun.
“Lincoln tidak terkena dan rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekat,” tulis CENTCOM melalui platform X, sembari menambahkan bahwa kapal induk tersebut tetap menjalankan operasinya seperti biasa.
Laporan Korban Jiwa
Meski membantah serangan terhadap kapal induk, Pentagon mengumumkan adanya korban jiwa di pihak militer AS dalam operasi melawan Iran. Setidaknya tiga anggota militer dilaporkan tewas dan lima lainnya luka parah. Namun, pihak Pentagon tidak merinci lokasi maupun detail insiden yang menyebabkan jatuhnya korban tersebut. (*)
Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara besar-besaran AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) yang menargetkan lebih dari 500 titik di Iran. (*)
Serangan tersebut menewaskan Ayatullah Ali Khamenei, yang memicu masa berkabung nasional selama 40 hari di Iran serta gelombang serangan balasan dari Teheran ke berbagai target di kawasan. (*)






