Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Bokeh, sebuah istilah teknis dari bahasa Jepang yang berarti ‘kabur’ atau ‘buram’, tampaknya telah mengalami distorsi makna yang hebat di tangan netizen negeri ini.
Jika Anda bertanya pada seorang fotografer kawakan, bokeh adalah tentang bagaimana lensa menangkap titik cahaya di latar belakang menjadi bulatan lembut yang memanjakan mata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia adalah seni memisahkan subjek dari kebisingan dunia. Namun, perhatikan layar ponsel dalam gambar tersebut. Judul-judul seperti “VIDEO BOKE FULL HD” atau “bathing on the beach” yang diunggah bertahun-tahun silam.
Menunjukkan bahwa istilah ini telah dibajak menjadi sebuah eufemisme, sebuah “kata sandi” bagi konten-konten yang kerap dicari di balik pintu tertutup.
Yang lebih menarik untuk dibedah secara jurnalistik bukan hanya kontennya, melainkan bagaimana algoritma mesin pencari bekerja. Lihatlah situs-situs yang muncul, nama-nama domain asing yang terdengar asing di telinga, seperti rushia-lacourneuve.fr atau expert-mediainstore.fr.
Muncul pula label harga “Rp 444.000” hingga “Rp 851.000”. Ini adalah indikasi kuat adanya praktik spamming atau upaya monetisasi dari situs-situs meragukan yang memanfaatkan tingginya volume pencarian kata kunci tersebut.
Ini adalah sebuah paradoks digital, disatu sisi, kita melihat betapa canggihnya kecerdasan buatan (AI) yang disebut-sebut dalam deskripsi aplikasi tersebut untuk “menghapus latar belakang”. Namun di sisi lain, kita melihat rendahnya filter konten yang membuat pengguna terjebak dalam labirin clickbait yang tak berujung.
Fenomena ini adalah tamparan bagi wajah literasi digital kita. Saat teknologi memberikan akses tanpa batas, kecenderungan manusiawi untuk mencari “yang dilarang” atau “yang tabu” justru menjadi komoditas yang paling laris diperjualbelikan oleh oknum pencipta konten sampah.
Kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang menguasai teknologi, atau justru sedang digiring oleh algoritma ke dalam ceruk-ceruk gelap internet yang hanya menawarkan ilusi?
Layar ponsel itu hanyalah gerbang. Apa yang kita cari di sana adalah pantulan dari apa yang ada di dalam pikiran kita. Dan bagi istilah “bokeh”, tampaknya perjalanan maknanya masih akan tetap kabur, seburam latar belakang foto yang ia definisikan. (*)






