Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Beijing – Disaat teknologi canggih dianggap sebagai ancaman yang memicu maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) global, Pemerintah China justru mengambil langkah sebaliknya.
Beijing secara resmi menjadikan teknologi AI sebagai strategi utama untuk menciptakan lapangan kerja baru dan menopang perekonomian negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah strategis ini diumumkan dalam pembukaan sidang tahunan parlemen China pada pekan lalu. Pemerintah menargetkan pemanfaatan AI secara besar-besaran dalam lima tahun ke depan guna merespons perlambatan ekonomi serta tantangan demografi berupa populasi tenaga kerja yang kian menua.
Menteri Sumber Daya Manusia China, Wang Xiaoping, menegaskan, jika pemerintah tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang.
“Pemerintah secara aktif memanfaatkan AI untuk menciptakan lapangan kerja dan memperluas kesempatan kerja bagi 12,7 juta lulusan universitas tahun ini,” ujarnya pada Rabu (11/3/2026).
Analis senior Plenum, Shujing He, menilai prioritas kebijakan China saat ini memang difokuskan pada dorongan adopsi dan kemampuan AI, dibandingkan sekadar mengantisipasi dampak pengurangan lapangan kerja akibat otomatisasi.
Meski demikian, strategi pemerintah ini tetap memicu perdebatan. Kepala Ekonom Asia-Pasifik Natixis, Alicia Garcia-Herrero, memperingatkan bahwa otomatisasi memiliki risiko besar.
Menurutnya, otomatisasi justru dapat menekan standar upah pekerja dan berisiko memperburuk angka pengangguran di kalangan anak muda.
Senada dengan hal tersebut, Ekonom tenaga kerja Cai Fang juga mengingatkan, dalam sejarah transisi teknologi, proses hilangnya pekerjaan lama sering kali terjadi lebih cepat dan lebih masif dibandingkan penciptaan lapangan pekerjaan baru.
“Guna meredam risiko tersebut, sektor pendidikan dan industri di China mulai beradaptasi dengan cepat,” ujarnya.
Sejumlah perguruan tinggi dilaporkan telah merombak kurikulum mereka guna membekali mahasiswa dengan keterampilan spesifik yang tidak dapat digantikan oleh robot, seperti kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan lintas disiplin.
Dorongan masif terhadap pemanfaatan AI ini juga tidak lepas dari prediksi demografi China. Diperkirakan sekitar 300 juta warga negara tersebut akan memasuki masa pensiun dalam satu dekade mendatang, sebuah kondisi yang menuntut peningkatan efisiensi teknologi untuk menggantikan tenaga manusia yang berkurang. (*)






