Caption : ist
Hariannarasi.com, Jakarta – OpenAI kehilangan lebih dari 1,5 juta pelanggan berbayar ChatGPT dalam kurun waktu kurang dari 48 jam. Penurunan drastis ini dipicu oleh kontroversi kerja sama perusahaan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).
Data dari situs pelacak boikot, yang pertama kali dilaporkan Forbes, mencatat lebih dari 1,5 juta pelanggan meninggalkan ChatGPT setelah pengumuman kesepakatan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kerja sama itu berfokus pada penggunaan AI OpenAI dalam sistem yang aman atau jaringan rahasia milik Pentagon. Banyak pengguna menilai langkah tersebut sebagai bentuk dukungan OpenAI terhadap operasi militer, termasuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom berbasis kecerdasan buatan.
Kontroversi semakin meluas setelah terungkap bahwa Presiden OpenAI, Greg Brockman, menyumbangkan dana sebesar 25 juta dolar AS kepada salah satu Super PAC yang berafiliasi politik tertentu.
Selain itu, kontrak OpenAI dengan lembaga imigrasi AS (ICE) turut memperkeruh situasi.
Gelombang protes kemudian mengkristal menjadi gerakan boikot daring bertagar #QuitGPT.
Warganet membuat laman boikot yang dapat diakses di QuitGPT.org, tempat pengguna bisa mendaftarkan nama dan alamat e-mail untuk bergabung dalam gerakan tersebut.
Pantauan menunjukkan lebih dari 2,5 juta orang telah menyatakan bergabung dalam aksi boikot itu. Disisi lain, Anthropic, pesaing langsung OpenAI, menolak memberikan akses tak terbatas atas model Claude kepada pemerintah AS, sikap yang mendapat dukungan luas dari pengguna yang beralih ke layanan tersebut.
Claude bahkan berhasil mengungguli ChatGPT sebagai aplikasi gratis terpopuler di Apple App Store. Anthropic turut memanfaatkan momentum ini dengan menyediakan tutorial resmi untuk mentransfer riwayat percakapan dari ChatGPT ke Claude.
Disamping itu, jumlah unduhan aplikasi ChatGPT di Amerika Serikat turun sekitar 13 persen dalam satu pekan, sementara ulasan bintang satu di App Store melonjak 775 persen, mayoritas berisi protes atas militerisasi AI. (*)






