Caption : ist (Dok. Tiktok @anj_investor)
Hariannarasi.com, Jakarta – Gelombang kejut menghantam jantung pasar modal Indonesia. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu kekhawatiran sistemik tidak hanya berdampak pada angka-angka di papan bursa, tetapi telah memakan korban di level elit.
Dalam sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam sejarah otoritas keuangan nasional, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama empat petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dikabarkan mengundurkan diri secara serentak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah drastis ini memicu pertanyaan besar, apakah ini murni bentuk pertanggungjawaban, atau ada tekanan sistemik yang tak tertahankan?
Ditengah hiruk-pikuk spekulasi pasar, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan perspektif yang berbeda dalam sela-sela Rakernas I PDIP.
Partai berlambang banteng ini tidak melihat pengunduran diri tersebut sebagai tanda kekalahan, melainkan sebuah manifestasi dari “Satyameva Jayate” bahwa kebenaranlah yang akhirnya berjaya.
Hasto menegaskan bahwa langkah para pejabat tinggi tersebut adalah sebuah “Perisai Moral”.
“Ketika kami melihat ada pejabat yang menunjukkan tanggung jawab moralnya, ya PDI Perjuangan menganggap ini sebagai suatu keteladanan baru. Seorang pemimpin bertanggung jawab,” ungkap Hasto dengan nada serius.
Pernyataan ini menyiratkan bahwa PDIP memandang insiden pasar modal ini bukan sekadar fluktuasi ekonomi biasa, melainkan kegagalan sistem yang membutuhkan pertanggungjawaban level tertinggi.
Pengunduran diri massal ini dibranding ulang sebagai standar etika baru bagi pejabat publik di Indonesia.
Menjaga Sektor Riil dari Kebakaran Pasar Modal
Investigasi lebih lanjut menyoroti kekhawatiran utama di balik manuver politik dan birokrasi ini, Dampak domino terhadap rakyat kecil.
Hasto menyoroti celah berbahaya antara sektor keuangan dan sektor riil. Pesan tersiratnya jelas, krisis di lantai bursa tidak boleh mematikan nadi ekonomi warga biasa. Ia mendesak adanya sinkronisasi total antara tiga pilar utama, yakni Otoritas Moneter, Otoritas Fiskal dan Sektor Riil
“Kepentingan rakyat, bangsa, dan negara harus dikedepankan,” tegas Hasto.
Peringatan ini menjadi sinyal bahwa partai penguasa di parlemen tersebut sedang memantau ketat agar kerugian triliunan rupiah di pasar saham tidak merembet menjadi krisis ekonomi yang lebih luas.
Bola Panas di Meja Prabowo
Dengan kosongnya kursi-kursi strategis di BEI dan OJK, pertanyaan krusial berikutnya adalah, Siapa yang akan menambal kebocoran kapal ini?
Etika didesak mengenai sosok pengganti yang tepat untuk menahkodai otoritas keuangan di tengah badai, Hasto menarik garis demarkasi politik yang tegas. Ia menyerahkan sepenuhnya bola panas tersebut kepada eksekutif.
“Itu adalah kewenangan sepenuhnya dari Presiden Prabowo Subianto,” pungkasnya.
Pernyataan ini menempatkan beban pemulihan kepercayaan pasar sepenuhnya di pundak Presiden. Pilihan Presiden selanjutnya tidak hanya akan menentukan nasib IHSG, tetapi juga menjadi ujian apakah “keteladanan moral” yang disebut PDIP akan diteruskan oleh pengganti yang memiliki integritas dan kapabilitas setara, atau justru menjadi ajang kompromi politik baru.
Pasar kini menahan napas, menanti langkah Istana di tengah turbulensi yang belum mereda dan oenuh ketidakpastian. (*)






