Kekeringan Melanda Lampung, Cadangan Air Bendungan Sekampung Tersisa 1,5 Bulan

- Editor

Sabtu, 22 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hariannarasi.com, Mesuji – Cadangan air di sejumlah bendungan di Provinsi Lampung menyusut ke level kritis akibat kekeringan masif yang melanda berbagai wilayah.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung memperkirakan pasokan di Bendungan Sekampung, yang kini menjadi sumber andalan terakhir untuk irigasi, hanya mampu bertahan sekitar satu setengah bulan ke depan jika hujan tak kunjung turun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, menjelaskan, sistem pengelolaan air di Lampung yang menggunakan pola bendungan bertingkat (cascade) kini berada dalam situasi sulit.

Bendungan Batutegi sebagai hulu telah menyentuh batas muka air minimum sehingga pelepasannya harus dihentikan agar bendungan tidak rusak (collapse).

Hal ini berdampak langsung pada menyusutnya debit air secara drastis hingga ke Bendungan Margatiga dan Bendung Jabung yang kini berada di titik paling kritis.

​”Dari Batutegi sudah muka air minimum, tidak bisa lagi dibuka. Yang jadi andalan kita tinggal yang ada di Sekampung. Itu pun hanya bisa bertahan kira-kira satu setengah bulan ke depan,” tegas Elroy.

​Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, khususnya pada daerah tadah hujan di luar sistem irigasi utama.

BBWS menyatakan telah mengeluarkan peringatan sejak dua bulan lalu agar petani menghentikan aktivitas tanam maksimal akhir Juli. Langkah ini diwajibkan sesuai perhitungan neraca air guna mencegah tanaman mati kekeringan di tengah jalan.

​Menyikapi krisis ini, pihak BBWS tidak bisa serta-merta mengambil air sungai secara besar-besaran karena berisiko memicu kekeringan di wilayah hilir.

Sebagai solusi alternatif, pemerintah tengah menyiapkan pemanfaatan air tanah melalui pembuatan sumur bor dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun ini.

​Lebih lanjut, Elroy juga menyoroti pentingnya pembuatan embung (waduk kecil) serta mendesak pelestarian kawasan rawa yang dinilai memiliki potensi besar sebagai sistem penyimpanan air alami yang kini banyak beralih fungsi.

​Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi warga, BBWS telah membuka posko pengaduan dan rutin mendistribusikan 5.000 hingga 10.000 liter air bersih setiap harinya.

Distribusi ini difokuskan pada wilayah terdampak tinggi seperti Bandar Lampung dan Lampung Selatan.

Agar distribusi truk tangki berjalan efektif, aparat desa diimbau secara aktif menyediakan bak penampungan air komunal alih-alih membiarkan warga mengandalkan jeriken pribadi. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

673,4 Hektare Kawasan TN Way Kambas Terbakar, Akses Sulit Hambat Pemadaman
Tukang Koperasi Ditemukan Tewas di Kebun Singkong Lampung Utara, Diduga Korban Pembunuhan
Lagi lagi TN Way Kambas Terbakar, Diduga Ulah Pemburu Liar!
Jasad Pria Ditemukan Membusuk di Eks Kafe Bunga Sukabumi, Keluarga Tolak Visum
Pekerja Kebun Tebu di Tulang Bawang Tewas Ditikam, Polisi Tangkap Sang Mandor
Bantah Isu Dirinya Digerebek di Hotel Radisson, Anggota DPRD Bandar Lampung Sri Ningsih Lapor Polisi
Biduan Waria Ditangkap Polres Pesisir Barat, Cabuli Anak Laki di Bawah Umur
Dada Ditembus Badik, Pria Tulang Bawang Meregang Nyawa di Tangan Teman Sendiri
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:06 WIB

673,4 Hektare Kawasan TN Way Kambas Terbakar, Akses Sulit Hambat Pemadaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:57 WIB

Tukang Koperasi Ditemukan Tewas di Kebun Singkong Lampung Utara, Diduga Korban Pembunuhan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:42 WIB

Lagi lagi TN Way Kambas Terbakar, Diduga Ulah Pemburu Liar!

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:36 WIB

Kekeringan Melanda Lampung, Cadangan Air Bendungan Sekampung Tersisa 1,5 Bulan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:32 WIB

Pekerja Kebun Tebu di Tulang Bawang Tewas Ditikam, Polisi Tangkap Sang Mandor

Berita Terbaru