Hariannarasi.com, Mesuji – Cadangan air di sejumlah bendungan di Provinsi Lampung menyusut ke level kritis akibat kekeringan masif yang melanda berbagai wilayah.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung memperkirakan pasokan di Bendungan Sekampung, yang kini menjadi sumber andalan terakhir untuk irigasi, hanya mampu bertahan sekitar satu setengah bulan ke depan jika hujan tak kunjung turun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, menjelaskan, sistem pengelolaan air di Lampung yang menggunakan pola bendungan bertingkat (cascade) kini berada dalam situasi sulit.
Bendungan Batutegi sebagai hulu telah menyentuh batas muka air minimum sehingga pelepasannya harus dihentikan agar bendungan tidak rusak (collapse).
Hal ini berdampak langsung pada menyusutnya debit air secara drastis hingga ke Bendungan Margatiga dan Bendung Jabung yang kini berada di titik paling kritis.
”Dari Batutegi sudah muka air minimum, tidak bisa lagi dibuka. Yang jadi andalan kita tinggal yang ada di Sekampung. Itu pun hanya bisa bertahan kira-kira satu setengah bulan ke depan,” tegas Elroy.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian, khususnya pada daerah tadah hujan di luar sistem irigasi utama.
BBWS menyatakan telah mengeluarkan peringatan sejak dua bulan lalu agar petani menghentikan aktivitas tanam maksimal akhir Juli. Langkah ini diwajibkan sesuai perhitungan neraca air guna mencegah tanaman mati kekeringan di tengah jalan.
Menyikapi krisis ini, pihak BBWS tidak bisa serta-merta mengambil air sungai secara besar-besaran karena berisiko memicu kekeringan di wilayah hilir.
Sebagai solusi alternatif, pemerintah tengah menyiapkan pemanfaatan air tanah melalui pembuatan sumur bor dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) pada tahun ini.
Lebih lanjut, Elroy juga menyoroti pentingnya pembuatan embung (waduk kecil) serta mendesak pelestarian kawasan rawa yang dinilai memiliki potensi besar sebagai sistem penyimpanan air alami yang kini banyak beralih fungsi.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi warga, BBWS telah membuka posko pengaduan dan rutin mendistribusikan 5.000 hingga 10.000 liter air bersih setiap harinya.
Distribusi ini difokuskan pada wilayah terdampak tinggi seperti Bandar Lampung dan Lampung Selatan.
Agar distribusi truk tangki berjalan efektif, aparat desa diimbau secara aktif menyediakan bak penampungan air komunal alih-alih membiarkan warga mengandalkan jeriken pribadi. (*)






