Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Jakarta – Penggunaan lagu latar (backsound) yang diduga dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada rangkaian Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026), menuai kritik tajam dari publik di media sosial.
Warganet menyayangkan pihak penyelenggara yang dinilai mengesampingkan karya musisi lokal dalam acara resmi kenegaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sorotan publik ini bermula dari beredarnya potongan video viral berdurasi sekitar 19 detik di platform X (sebelumnya Twitter).
Dalam video tersebut, terdengar lagu pengiring dengan lirik, “Dari gunung sampai lautan, satu Indonesia, satu suara, Merah Putih tak akan kalah”.
Sejumlah pendengar langsung mengenali bahwa karakter vokal dan aransemen lagu tersebut identik dengan hasil produksi platform musik generatif AI, seperti Suno.
Banyak warganet yang menyayangkan keputusan ini. Beberapa komentar mempertanyakan alasan penggunaan AI di tengah banyaknya musisi berbakat di Indonesia.
Sebagian lainnya bahkan menyindir apakah langkah tersebut diambil semata-mata untuk efisiensi biaya produksi, sehingga pemerintah tidak perlu membayar royalti kepada pencipta lagu.
Selain lagu latar tersebut, warganet juga menyoroti penggunaan lagu “Veronica Ko” di Istana Negara.
Lagu yang sempat viral tersebut diketahui memiliki lirik yang ditulis oleh Verry Klau, namun aransemen dan vokalnya juga dibuat menggunakan bantuan teknologi AI.
Meski mendapat banyak kritik terkait penggunaan AI, unsur musik tradisional tetap dihadirkan dalam rangkaian upacara tersebut.
Pada sesi penutup, kelompok paduan suara Gita Bahana Nusantara tampil membawakan “Palu Ngataku”, sebuah lagu daerah ciptaan mendiang maestro budaya asal Sulawesi Tengah, Hasan Bahasyuan. (*)






