Caption : Kawasan Selat Hormuz
Hariannarasi.com, Jakarta – Melihat situasi geopolitik yang sangat kritis dan memprihatinkan ini, wajar jika banyak pihak merasa khawatir akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah, peringatan keras serta eskalasi ancaman militer AS terhadap blokade jalur pelayaran oleh Iran, memicu kedua belah pihak saling ancam.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Otoritas Iran secara terbuka mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini diambil sebagai respons tegas atas ultimatum 48 jam yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang mendesak Teheran untuk segera membuka akses pelayaran di Selat Hormuz.
Saling Ancam dan Ultimatum Terbuka
Konflik di jalur diplomasi kini beralih menjadi ancaman militer secara langsung. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Washington tidak akan segan menggunakan kekuatan militernya jika tuntutan terkait Selat Hormuz diabaikan.
“Jika Iran tidak membuka secara penuh Selat Hormuz dalam 48 jam, AS akan menyerang pembangkit listrik mereka,” tegas Trump secara terbuka.
Pernyataan keras dari Washington langsung dijawab dengan gertakan serupa oleh otoritas militer Iran. Juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa setiap serangan darat maupun udara terhadap fasilitas domestik mereka akan memicu balasan skala penuh.
”Jika infrastruktur kami diserang, seluruh fasilitas energi hingga teknologi milik AS dan rezim Israel di kawasan akan menjadi sasaran,” ungkap perwakilan militer Iran.
Buntut Serangan Mematikan 28 Februari
Ekskalasi yang berpotensi memicu perang terbuka ini merupakan kelanjutan dari rentetan gempuran militer yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026.
Berdasarkan berbagai laporan, operasi militer tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan gabungan tersebut tidak hanya menyasar tokoh-tokoh penting dan warga sipil, tetapi juga melumpuhkan fasilitas vital negara, termasuk rusaknya ladang gas South Pars yang merupakan salah satu pusat energi terbesar di negara itu.
Dampak Global dan Krisis Energi
Selain memicu krisis kemanusiaan yang mendalam di Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz saat ini telah memberikan efek domino pada perekonomian global.
Jalur perairan strategis tersebut merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan energi dunia.
Memanasnya konflik dan ancaman penutupan akses di selat ini telah memicu kepanikan pasar yang berujung pada lonjakan tajam harga minyak dunia. (*)






