Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Lampung Timur – Pengelola Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur terus memperkuat sistem pengawasan kawasan konservasi dengan membangun pusat komando (command center) terpadu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Teknologi canggih ini disiapkan untuk memantau pergerakan gajah sumatra hingga mendeteksi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara real-time.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto menjelaskan, jika penerapan teknologi AI ini menjadi tumpuan utama dalam mengawasi kawasan perbatasan TNWK yang membentang sepanjang 167 kilometer.
“Pengembangan sistem command center ini dirancang multifungsi, mulai dari mengenali data biologis satwa, memitigasi potensi perburuan dan pencurian, hingga menganalisis korelasi data satwa guna memetakan jalur jelajah gajah sesuai perubahan musim,” kata Sriyanto
Dalam pengawasan satwa, data visual dari kamera cerdas akan diintegrasikan dengan Sistem Pemosisi Global (GPS).
Melalui sistem ini, petugas dapat memproyeksikan pergerakan gajah, memetakan jalur jelajah atau migrasi berdasarkan perubahan musim, hingga mendeteksi kondisi kesehatan satwa dilindungi tersebut dari jarak jauh.
Selain fokus pada mitigasi konflik gajah, keberadaan command center ini difungsikan untuk merespons cepat ancaman karhutla dan kejahatan kehutanan.
Pengawasan secara berkala dan terpusat melalui dasbor akan diprioritaskan pada empat titik wilayah yang dinilai paling rawan mengalami kebakaran, yaitu Braja Luhur, Braja Kencana, Karang Anyar, dan Wako.
Pemanfaatan pemantauan berbasis AI ini juga menjadi langkah taktis TNWK untuk mengatasi maraknya perusakan alat oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Pemasangan kamera pengawas (CCTV) 360 derajat kini diterapkan setelah sebelumnya 38 dari 52 kamera jebak (trap camera) yang dipasang di dalam hutan sempat dibakar atau dicuri memori penyimpanannya oleh pembalak liar maupun pemburu.
Dengan beroperasinya sistem pengawasan terpadu berbasis AI ini, diharapkan kawasan perlindungan TNWK menjadi lebih aman.
Sistem ini diyakini mampu meminimalisasi konflik antara satwa dengan masyarakat sekitar, sekaligus menekan risiko kerusakan ekosistem akibat kebakaran hutan secara lebih cepat dan akurat. (“)






