Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Tanggamus – Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau semakin meluas dan memapar 20 kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, hingga Minggu (6/9/2026) sore.
Merespons kondisi ini, pemerintah resmi mengalihkan seluruh Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menjadi pembelajaran daring (dari rumah) pada 7–8 September 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan pembaruan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus per Minggu (6/9/2026) pukul 16.30 WIB, hujan abu telah berlangsung sejak Sabtu (5/9/2026) pagi.
Paparan material vulkanik ini dilaporkan mengganggu jarak pandang dan berpotensi memicu masalah infeksi saluran pernapasan (ISPA) bagi warga yang beraktivitas di luar rumah.
Adapun 20 kecamatan yang terdampak meliputi: Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, Kota Agung, Kotaagung Timur, Kelumbayan Barat, Bandar Negeri Semuong, Kotaagung Barat, Wonosobo, Kelumbayan, Limau, Ulu Belu, Gisting, Pulau Panggung, Bulok, Gunung Alip, Sumberejo, Air Naningan, Talang Padang, dan Pugung.
KBM Daring Diberlakukan
Menyikapi dampak abu vulkanik yang meluas, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 150 Tahun 2026 di Bandar Lampung pada 6 September 2026.
Melalui instruksi tersebut, kegiatan belajar tatap muka untuk seluruh jenjang (PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB) ditiadakan sementara dan diganti dengan sistem daring selama dua hari, yakni Senin (7/9/2026) hingga Selasa (8/9/2026).
Beberapa poin penekanan dalam kebijakan tersebut antara lain:
- Siswa belajar dari rumah dengan pendampingan langsung dari orang tua atau wali.
- Kepala sekolah dan guru tetap menjalankan tugas guna memastikan KBM daring berjalan efektif.
- Seluruh elemen sekolah diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan wajib mengenakan masker jika harus keluar rumah.
- Dinas Pendidikan dan BPBD setempat diinstruksikan untuk terus memantau kondisi keamanan lingkungan di setiap satuan pendidikan.
Penanganan dan Kebutuhan Mendesak
Untuk menanggulangi dampak di lapangan, Pemkab Tanggamus melalui BPBD terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, Basarnas, TAGANA, dan relawan RAPI.
Dinas Kesehatan Tanggamus juga telah mendirikan posko-posko kesehatan serta mulai mendistribusikan masker dan obat-obatan kepada warga.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanggamus, Hendarman Wahid, menyatakan bahwa kebutuhan yang paling mendesak di wilayah terdampak saat ini adalah pasokan tambahan masker dan obat-obatan.
“Kami meminta masyarakat untuk tidak panik, membatasi aktivitas di luar rumah, dan memakai masker. Tetap waspada dan pastikan hanya mempercayai informasi yang berasal dari sumber resmi pemerintah seperti BPBD dan BMKG,” imbau Hendarman. (*)






