Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Harapan seorang calon siswa untuk mengenyam pendidikan di SMP Negeri 19 Bandar Lampung pupus.
Meski kediamannya hanya berjarak 20 meter dan terpisah pagar dari gedung sekolah, ia dinyatakan tidak lolos Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jalur domisili pada Rabu (8/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ironisnya, calon siswa ini sudah menunda pendidikan selama satu tahun demi bisa masuk sekolah negeri.
Feri, paman dari calon siswa tersebut, menjelaskan bahwa keponakannya sengaja tidak bersekolah tahun lalu akibat gagal lolos di jalur afirmasi.
Tahun ini, pihak keluarga mengandalkan jalur domisili mengingat jarak rumah yang sangat dekat dengan sekolah.
”Tahun lalu dia daftar jalur afirmasi, tetapi datanya ditolak. Tahun ini daftar lagi lewat jalur domisili, hasilnya tetap tidak diterima,” ungkap Feri.
Feri menduga akar permasalahan bukan terletak pada keterbatasan kuota 40 persen, melainkan pada proses verifikasi data domisili oleh panitia yang dinilai tidak teliti. Ia mengklaim menemukan kejanggalan dalam data peserta lain yang diloloskan.
”Ada peserta yang semestinya berjarak sekitar 1,7 kilometer dari sekolah, tetapi setelah diverifikasi justru tercatat sekitar 900 meter. Sementara keponakan saya yang tinggal sekitar 20 meter justru tidak lolos,” jelasnya.
Atas temuan tersebut, Feri mendesak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandar Lampung bersama DPRD untuk melakukan verifikasi ulang secara faktual terhadap seluruh data peserta jalur domisili.
Rencananya, keluarga akan kembali mendatangi pihak sekolah pada Senin pekan depan dengan membawa bukti-bukti dokumen untuk meminta evaluasi hasil seleksi.
Orang Tua Lain Tunggu Kepastian
Kasus serupa tidak hanya dialami oleh keluarga Feri. Heru (39), salah satu orang tua calon siswa, mengeluhkan anaknya gagal diterima di seluruh pilihan sekolah melalui jalur domisili, yakni SMPN 14, SMPN 2, dan SMPN 39 Bandar Lampung. Laman pengumuman SPMB menyatakan bahwa kuota di sekolah-sekolah tersebut telah penuh.
Heru mengaku telah mengadukan nasib anaknya ke Disdikbud Kota Bandar Lampung dan diminta untuk mengumpulkan data pendaftaran guna pendataan ulang.
”Katanya akan diusahakan dicarikan sekolah, tapi kepastiannya masih menunggu informasi besok,” ujar Heru.
Ia sangat berharap anaknya tetap bisa diterima di SMP negeri untuk menghindari beban biaya pendidikan yang lebih besar di sekolah swasta. (*)






