Pejabat PBB Kritik Standar Ganda Agresi AS-Israel ke Iran: Bayangkan Jika Iran yang Membom Washington!

- Editor

Selasa, 24 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Ist

Hariannarasi.com, Jakarta – Direktur Eksekutif sekaligus Perwakilan Utama Organisasi Visi Patriotik (PVA) di PBB, Mohamad Safa, melontarkan kritik tajam terkait pengeboman yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel di Iran. 

Safa menyoroti adanya standar ganda Washington dalam memberikan label dan pembenaran atas agresi militer tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Selasa (24/3/2026), Safa mempertanyakan penggunaan istilah pre-emptive strike (serangan pendahuluan) oleh AS. Ia membandingkan respons dunia internasional jika serangan serupa dilakukan oleh pihak Iran.

​”Bayangkan jika Iran mengebom Washington, membunuh Presiden AS, para politisi, diplomat, dan jenderal-jenderal tertingginya, apa yang akan Anda sebut itu? Teroris,” tulis Safa.

Ia mempertanyakan mengapa tindakan AS mengebom Teheran dan menargetkan para petingginya justru diklaim sebagai serangan kejutan untuk mencegah musuh menyerang lebih dulu, yang sering kali dilakukan tanpa deklarasi perang resmi.

Kritik terhadap kampanye militer AS di Iran tidak hanya datang dari komunitas internasional, tetapi juga dari lingkaran dalam pemerintahan AS.

Pada Selasa pekan lalu, Joe Kent resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS.

​Dalam surat pengunduran dirinya yang dirilis ke publik, Kent secara terbuka mengkritik Presiden AS Donald Trump atas perang tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran tidak menimbulkan ancaman langsung (direct threat) bagi Amerika Serikat.

​Sementara itu, secara hukum domestik, Presiden AS memiliki kewenangan di bawah Undang-Undang Kekuatan Perang (War Powers Act) untuk melakukan operasi militer selama 60 hari tanpa memerlukan persetujuan dari Kongres.

​Hingga akhir pekan lalu, faksi Partai Republik di Kongres masih terus memberikan dukungan kepada presiden dengan menolak sejumlah resolusi dari Partai Demokrat yang berupaya menghentikan operasi militer tersebut.

Meski demikian, sejumlah anggota parlemen AS mulai mendesak pemerintah untuk segera memaparkan strategi yang lebih komprehensif terkait perang di Iran.

Kegagalan dalam memberikan kejelasan strategi dinilai berisiko memicu penolakan keras dari Kongres, terlebih pemerintah AS secara bersamaan juga tengah mengajukan permintaan persetujuan anggaran baru senilai miliaran dolar. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Presiden Prabowo Resmikan Kopdes Merah Putih, Sekdaprov Marindo: 345 Unit Telah Berdiri di Lampung
Wakil Bupati Tanggamus Resmikan Koperasi Desa Merah Putih di Baros
Pura-pura Jadi Anggota TNI AL dan Korban Begal, Pemuda Ini Ditangkap Polisi
Ayah Kandung Pelaku Pencabulan Anak di Natar Resmi Ditahan, Keluarga Tuntut Hukuman Maksimal
PSK di PMD Panjang Ditusuk Pelanggan Usai Minta Bayaran Kencan
Pria 24 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Terkunci di Lampung Utara
Sambut Idul Adha, Presiden Kirim 16 ‘Sapi Raksasa’ Berbobot 1 Ton ke Lampung
Bukannya Melindungi, Ayah di Lampung Tega Jadikan Anak Kandung Sendiri Pemuas Nafsu!
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 02:58 WIB

Presiden Prabowo Resmikan Kopdes Merah Putih, Sekdaprov Marindo: 345 Unit Telah Berdiri di Lampung

Minggu, 17 Mei 2026 - 02:00 WIB

Pura-pura Jadi Anggota TNI AL dan Korban Begal, Pemuda Ini Ditangkap Polisi

Minggu, 17 Mei 2026 - 01:44 WIB

Ayah Kandung Pelaku Pencabulan Anak di Natar Resmi Ditahan, Keluarga Tuntut Hukuman Maksimal

Minggu, 17 Mei 2026 - 01:38 WIB

PSK di PMD Panjang Ditusuk Pelanggan Usai Minta Bayaran Kencan

Sabtu, 16 Mei 2026 - 05:51 WIB

Pria 24 Tahun Ditemukan Tewas di Kamar Terkunci di Lampung Utara

Berita Terbaru