Caption : Penampakan sore hari Singapura (Dok. Traveloka)
Hariannarasi.com, Kuala Lumpur – Tren pelepasan status kewarganegaraan di Malaysia menunjukkan angka yang cukup mengusik perhatian. Dalam kurun lima tahun terakhir, tercatat lebih dari 61.000 warga negara Malaysia memilih untuk menanggalkan paspor mereka.
Fenomena ini bukan sekadar statistik perpindahan penduduk biasa, melainkan cermin dari daya tarik ekonomi negara tetangga yang kian tak terbendung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data terbaru yang dirilis Departemen Pendaftaran Nasional (DPN) hingga 17 Desember 2025, sebanyak 61.116 orang telah resmi melepas kewarganegaraan mereka. Dari angka tersebut, Singapura menjadi destinasi mutlak bagi mayoritas eks-warga Malaysia.
Direktur Jenderal DPN, Badrul Hisham Alias, mengungkapkan bahwa 93,78% atau sekitar 57.315 orang memilih untuk menjadi warga negara Singapura. Posisi selanjutnya diikuti oleh Australia (2,15%) dan Brunei Darussalam (0,97%).
“Keputusan ini sebagian besar didorong oleh faktor ekonomi dan pertimbangan keluarga,” ujar Badrul saat memberikan keterangan yang dikutip dari Asia One.
Logika di balik angka ini sebenarnya sederhana namun mendalam, kedekatan geografis yang dibarengi dengan selisih nilai tukar mata uang dan standar upah yang lebih tinggi menjadikan Singapura sebagai “janji kesejahteraan” yang konkret bagi banyak pekerja Malaysia.
Kehilangan Generasi Emas
Jika kita membedah anatomi data tersebut, ada kekhawatiran mengenai brain drain atau pelarian modal manusia. Kelompok usia produktif mendominasi daftar ini:
- Usia 31-40 tahun: 19.287 orang (31,16%)
- Usia 21-30 tahun: 18.827 orang (30,8%)
Artinya, lebih dari 60% mereka yang pergi berada di masa keemasan karier dan produktivitas. Selain itu, data menunjukkan bahwa kaum perempuan merupakan kelompok terbesar yang berpindah kewarganegaraan, mencapai angka 35.356 orang, yang sering kali dipicu oleh faktor pernikahan dengan warga asing dan keputusan untuk menetap di luar negeri.
Tren ini sebenarnya bukanlah fenomena baru, namun eskalasinya patut diwaspadai. Jika menilik data satu dekade terakhir (2015 – Juni 2025), lebih dari 97.000 orang telah pergi.
Rata-rata 10.000 orang per tahun yang meninggalkan kewarganegaraan ini menandakan adanya tantangan domestik dalam mempertahankan talenta terbaik agar tetap berkontribusi di dalam negeri.
Bagi Malaysia, tantangan ke depan bukan hanya soal administratif pendaftaran penduduk, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu bersaing dengan daya pikat Dollar Singapura agar “darah segar” bangsa tidak terus mengalir ke luar perbatasan. (*)






