Caption : ist
Hariannarasi.com, Aceh – Ada sebuah adagium tua di dunia politik, “Simbol seringkali berbicara lebih keras daripada kebijakan.” Sayangnya, bagi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, simbol yang tertangkap kamera baru-baru ini justru mengirimkan pesan yang kontra-produktif terhadap rakyat yang tengah di dera bencana alam dimana-mana.
Sebuah video yang memperlihatkan pria yang akrab disapa Zulhas sedang menikmati Sate Tubaka Matang di Bireuen, Aceh, mendadak menjadi pusat badai di media sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekilas, tidak ada yang salah dengan seorang pejabat negara yang mengapresiasi kuliner lokal usai meninjau wilayah terdampak banjir. Namun, detail kecil di sela jemarinya, sebatang cerutu, telah mengubah kunjungan kerja tersebut menjadi sebuah drama krisis empati.
Publik hari ini bukan lagi penonton pasif. Dengan ketajaman mata netizen, cerutu tersebut diidentifikasi sebagai Cohiba 55 Aniversario Edición Limitada 2021. Sebuah cerutu premium yang harganya ditaksir menyentuh angka Rp 7,9 juta per batang.
Di sinilah letak ironinya. Di saat warga Aceh masih bergelut dengan lumpur sisa banjir, mencari akses air bersih, dan menanti kepastian bantuan pangan, seorang pejabat yang membidangi urusan perut rakyat justru mempertontonkan gaya hidup yang terpaut jauh dari realitas akar rumput.
Masalahnya bukan sekadar pada harga sebatang tembakau. Ini adalah soal “tone deafness” atau ketulian terhadap suasana kebatinan masyarakat.
Sindiran tajam yang membanjiri jagat maya bukan sekadar kebencian tanpa dasar. Itu adalah ekspresi luka dari masyarakat yang merasa bahwa penderitaan mereka hanya menjadi latar belakang dari sebuah seremoni kunjungan. (*)






