Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak Minggu (14/12), melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mencegat potensi bencana hidrometeorologi di gerbang selatan Pulau Sumatera.
Langkah darurat ini diambil menyusul pergerakan agresif Siklon Mapung (sebelumnya bibit 91S) dan kemunculan saudara mudanya, bibit siklon 92S, di perairan sekitar Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadir juga Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang melakukan peninjauan Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Bandara Raden Inten II ini.
Peninjauan ini sebagai langkah antisipatif Pemerintah Provinsi Lampung dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dan peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah.
Pergerakan atmosfer ini bukan perkara sepele, ekor badai tersebut dilaporkan telah menjalar hingga menyentuh garis pantai Lampung.
Pemerintah Provinsi Lampung terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat dan instansi terkait dalam rangka memastikan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca berjalan optimal.
“Pemprov Lampung berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah preventif guna mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, serta memastikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat,” jelas Gubernur Mirza.
Sementara, Kepala BPBD Provinsi Lampung, Rudy Sjawal Sugiarto, mengungkapkan bahwa konsentrasi awan di wilayah barat Lampung telah memasuki kategori waspada. Jika dibiarkan masuk ke daratan, massa udara jenuh air ini dipastikan akan tumpah dalam bentuk hujan ekstrem yang mengancam keselamatan warga pesisir.
”Potensi ini membahayakan karena awan-awan di perairan sekitar siklon sudah membesar secara masif,” ujar Rudy pada Rabu (17/12).
Strategi yang digunakan tim gabungan BNPB dan BPBD cukup taktis, yakni Pre-emptive strike. Alih-alih menunggu hujan turun di pemukiman, tim melakukan penyemaian awan di wilayah laut. Logikanya sederhana, menurunkan hujan lebih awal di atas samudera sebelum awan-awan tersebut mencapai daratan.
Hingga Rabu pagi, pesawat pengangkut bahan semai telah beroperasi sebanyak lima kali. Fokus area operasi mencakup radius luas hingga 10.000 nautical mile (NM), menyasar sel-sel awan yang berpotensi menjadi bom waktu air.
Beberapa poin penting dari perkembangan operasi di lapangan:
1. Status Siklon, Siklon Mapung terpantau mulai bergerak menjauh, namun sisa-sisa awan konvektif masih mengepung wilayah barat.
2. Efektivitas, Berdasarkan asesmen BMKG, intensitas hujan di wilayah pesisir mulai menunjukkan tren penurunan pasca-penyemaian.
3. Perpanjangan Operasi, Meski tahap pertama dijadwalkan berakhir besok, dinamika atmosfer di laut barat yang masih menunjukkan pertumbuhan awan raksasa memberi sinyal kuat bahwa operasi ini akan diperpanjang.
Operasi ini menjadi bukti nyata bagaimana intervensi teknologi kini menjadi garda depan dalam mitigasi bencana. Rudy menekankan bahwa pihaknya tidak ingin kecolongan.
Fokus utama tetap pada pengamanan wilayah pesisir barat yang secara geografis paling rentan terdampak langsung oleh aktivitas siklon tropis.
Kini, seluruh mata tertuju pada layar pantauan satelit. Di saat warga Lampung menjalankan aktivitas harian, di ketinggian ribuan kaki, tim OMC terus berjibaku, memastikan bahwa badai yang seharusnya menerjang daratan, luruh menjadi rintik yang tenang di tengah lautan. (*)






