Caption : Pendekatan humanis Satlantas Polres Tanggamus, rutin gelar Jumat Berbagi pasca patroli pagi.
Hariannarasi.com, Tanggamus – Ditengah hiruk-pikuk tantangan infrastruktur dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM), Satuan Lalu Lintas (Satlantas) di wilayah hukum Polres Tanggamus mencatat pencapaian signifikan.
Menjelang penutupan tahun 2025, angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah anomali positif mengingat minimnya jumlah personel di lapangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasatlantas Polres Tanggamus Iptu Rudi Khisbiyantoro memaparkan evaluasi kinerja satu tahun terakhir. Data berbicara jelas, fatalitas dan insiden laka lantas berhasil ditekan.
Secara akumulatif, angka kecelakaan pada tahun 2024 (Januari-Desember) tercatat sebanyak 127 kasus dengan 46 korban meninggal dunia dan 41 luka berat serta 126 luka ringan. Kerugian materiil mencapai angka Rp 464,8 juta.
Namun, memasuki tahun 2025, grafik tersebut melandai. Hingga periode berjalan, tercatat 121 kasus dengan 45 korban meninggal dunia, dan 64 korban luka berat serta 85 luka ringan. Kerugian materil senilai Rp339,1 juta.
“Kalau melihat tren secara global, memang agak menurun dibanding tahun lalu. Upaya-upaya kita membuahkan hasil,” ujar Kasatlantas sembari membandingkan data korban meninggal dunia yang juga turun drastis dari 5 orang kejadian di tahun lalu menjadi hanya 1 orang tahun ini.
Ironi Infrastruktur Satlantas
Dibalik angka yang membaik, terungkap realitas operasional yang menantang. Iptu Rudi menyoroti kondisi pos polisi yang mayoritas masih berstatus pos singgah, bukan pos permanen yang ideal.
Ia mencontohkan Pos Kota Agung yang hanya berfungsi sebagai tempat transit saat pengaturan lalu lintas pagi hari, tanpa fasilitas memadai untuk siaga 24 jam seperti tempat tidur, toilet dan fasilitas lainnya.
Bahkan, rencana pembangunan pos di kawasan Islamic Center (Jalur 2) sempat terkendala karena ketidaksesuaian antara pengajuan rancangan awal bangunan (RAB) dengan realisasi fisik bangunan, sehingga lahan tersebut kini terbengkalai.
”Idealnya itu seperti Pospol di ITERA. Ada ruang pelayanan, penjagaan, tempat istirahat, hingga sel tahanan. Itu baru namanya Pos Polisi yang menjamin keamanan masyarakat, standar ini penting agar kehadiran polisi benar-benar dirasakan, bukan sekadar numpang lewat,” ucapnya.
Krisis Personel: 29 Orang Jaga Lalu Lintas Satu Kabupaten Tanggamus
Tantangan terbesar yang diungkapkan adalah rasio personel yang jauh dari kata ideal. Dengan total anggota Polres sekitar 210 orang, Satuan Lalu Lintas hanya diawaki oleh 29 personel.
Angka ini harus dibagi untuk mengawal 9 pos (seharusnya), serta melaksanakan patroli rutin pagi, siang, sore, dan malam. “Bayangkan saja, Lantas hanya 29 orang. Kalau dibagi per pos dua orang saja, itu sudah habis. Anggota benar-benar diperas tenaganya,” ungkap Iptu Rudi.
Meski terjepit masalah logistik dan SDM, pendekatan humanis tetap menjadi ujung tombak. Polisi kini rutin menggelar program ‘Jumat Berbagi’ setiap pekan pasca-patroli pagi.
“Ini bukan sekadar seremonial, melainkan strategi jemput bola untuk mendekatkan aparat dengan masyarakat, memastikan kehadiran polisi tetap dirasakan di tengah segala keterbatasan fasilitas,” paparnya. (*)






