Caption : Program Pemerintah Terkait Food Estate (Lumbung Pangan Nasional) Tengah Mendapat Kritik Pedas dari banyak pihak, Presiden Jokowi Gencar Tingkatkan Lumbung Pangan Nasional yang Terintegrasi
Hariannarasi.com, Lampung – Pemerintah Indonesia kini tengah gencar untuk mensukseskan program food estate berbasis sistem terintegrasi, banyak daerah yang ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai basis dari percontohan lumbung pangan nasional, seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan NTT.
Proyek food estate ini diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap ketahanan pangan nasional bahkan internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak luput wilayah Lampung, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengajak Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) berkolaborasi bersama dalam menjaga pengelolaan sumber daya air untuk menghadapi perubahan iklim terutama yang mengancam penurunan produktivitas pertanian. Hal ini dijelaskan Gubernur saat menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke 40 dan Kongres ke 14 HATHI di GSG Universitas Lampung, Jumat (25/8)
Arinal mengatakan perubahan iklim menjadi ancaman bagi ketahanan pangan, air, dan energi serta dapat mempengaruhi produktivitas pertanian.
“Mari bersama HATHI kita bangun sinergi lakukan langkah antisipasi diantara dengan terus menjaga lingkungan dan mengatur tata kelola air,” ujar Arinal.
Arinal menambahkan, Lampung sendiri melakukan terobosan guna menjadikan penurunan emisi gas rumah kaca untuk mengurangi perubahan iklim dan mengatasi pemanasan global.
“Komitmen kami untuk menurunkan emisi gas dan rumah kaca, ini kita kolaborasikan bersama melalui sektor energi, industri, pertanian, kehutanan dan lahan serta sektor limbah-persampahan,” jelas Arinal.
Ia juga menerangkan, bahwa Lampung sebagai lumbung pangan nasional dibuktikan dengan produksi dibidang pertanian yang menjadi 5 besar skala nasional sebagai penghasil pertanian terbesar. Seperti pisang, kakao, padi, nanas, jagung, lada, tebu, dan ubi.
Gubernur Lampung ini berharap dapat menghasilkan inovasi dan terobosan untuk menjawab tantangan dan permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air, sehingga guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkesinambungan.
Sementara, Ketua HATHI Zainal menjelaskan, bahwa ia terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi anggotanya agar pengelolaan sumber daya air dapat diatasi, mengingat permasalahan ke depan yang semakin kompleks.
“Untuk mengatasi tantangan akibat dampak perubahan iklim, tentunya HATHI harus melakukan kolaborasi dengan seluruh pihak sebagai organisasi keahlian dibidang sumber daya air, harus menggerakkan seluruh kemampuan untuk bersama-sama mengantisipasi dan melakukan tindakan-tindakan nyata,” kata dia.
Saat ini, pihaknya tengah melakukan upaya mitigasi dampak perubahan iklim antara lain penurunan emisi karbon, penerapan pola tanam pertanian dan perkebunan yang hemat air. (red)






