Caption : Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung, Rudy Hartanto.
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Selisih harga yang cukup jauh antara bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan nonsubsidi dinilai menjadi pemicu antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Provinsi Lampung.
Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung Rudy Hartanto mengatakan disparitas harga tersebut berpotensi mendorong konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke BBM bersubsidi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan daftar harga resmi Pertamina per 1 Oktober 2026, harga BBM subsidi masih dipertahankan. Pertalite (RON 90) Rp10.000 per liter dan Biosolar Subsidi Rp6.800 per liter.
Sementara BBM nonsubsidi jauh lebih tinggi. Pertamax (RON 92) Rp15.950 per liter, Dexlite (CN 51) Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) Rp25.200 per liter.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut antrean Biosolar dipicu peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Dex, mendorong peralihan tersebut.
Data transaksi QR Code Biosolar di SPBU Lampung tercatat meningkat sejak Mei hingga September.
Untuk mengatasi antrean, Gubernur Lampung memperketat pengawasan distribusi Biosolar menyusul antrean panjang di sejumlah SPBU.
Pengawasan terhadap kendaraan roda enam ke atas diperketat mulai Selasa, 13 Oktober 2026. Petugas akan melakukan pemeriksaan STNK untuk mencocokkan identitas kendaraan dengan QR Code Biosolar yang digunakan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan dan pengisian berulang yang tidak semestinya. (*)






