Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Provinsi Lampung berhasil mencatatkan tingkat inflasi terendah se-Sumatera pada Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year) Lampung tercatat sebesar 1,76 persen, sementara secara bulanan (month-to-month) daerah ini justru mengalami deflasi sebesar 0,49 persen.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari kinerja wilayah kabupaten/kota di dalamnya. Kabupaten Lampung Timur menjadi daerah dengan inflasi terendah di Sumatera, yakni 1,45 persen (tahunan) dan mengalami deflasi bulanan sebesar 1,06 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kota Bandar Lampung juga menyusul sebagai wilayah dengan tingkat inflasi tahunan terendah kedua se-Sumatera pada angka 1,74 persen.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara daring bersama Kementerian Dalam Negeri pada Selasa (4/8/2026).
Dilaporkan bahwa Indeks Perkembangan Harga (IPH) Provinsi Lampung pada pekan kelima Juli juga merosot hingga minus 1,64 persen.
Tren penurunan ini mayoritas didorong oleh turunnya harga komoditas strategis pasar, seperti cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah.
Untuk menjaga agar harga di tingkat konsumen tetap terkendali, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Bulog terus memacu distribusi bahan kebutuhan pokok.
Hingga 4 Agustus 2026, penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tercatat telah mencapai 12.175.975 kilogram (67,93 persen dari target). Sementara itu, pendistribusian Minyakita telah terealisasi sebanyak 6.710.880 liter.
Meski mencatatkan kinerja positif, Pemprov Lampung tetap mewaspadai ancaman gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem.
Fenomena El Nino diprediksi berpotensi melanda empat wilayah, yakni Kabupaten Mesuji, Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang, yang dapat mengancam stabilitas produksi pangan ke depan.
Selain ancaman cuaca, Lampung juga masih menghadapi tantangan defisit produksi komoditas hortikultura. Tercatat saat ini terdapat kekurangan pasokan bawang merah sebesar 2.780 ton, cabai rawit 3.266 ton, dan cabai besar 1.690 ton.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemprov Lampung memastikan akan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi.
Caranya, melalui pengamanan kelancaran distribusi, pemantauan harga secara berkala, penguatan produksi lokal, serta menjaga kelancaran pasokan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. (*)






