Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung mengimbau pelaku usaha atau perajin tempe untuk beralih menggunakan daun pisang sebagai kemasan alternatif.
Kebijakan ini didorong oleh lonjakan harga biji plastik yang meroket hingga 50-120 persen sejak akhir Februari 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Disperindag Provinsi Lampung, M. Zimmi Skil, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik tersebut merupakan imbas langsung dari kondisi geopolitik global.
Terganggunya distribusi minyak dunia, termasuk di jalur Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga nafta yang menjadi bahan baku utama pembuatan plastik.
“Karena kondisi geopolitik global yang tidak menentu dan distribusi minyak terganggu, maka harga nafta naik dan berdampak pada harga plastik,” ujar Zimmi, Kamis (9/4), menyusul peninjauan ke pabrik tahu di wilayah Jagabaya, Way Halim, pada Rabu (8/4) sore.
Sebagai solusi, Disperindag menilai daun pisang dapat menjadi langkah strategis bagi perajin untuk menekan biaya produksi. Selain lebih ekonomis, Zimmi menyebut daun pisang lebih sehat dan merupakan bagian dari kearifan lokal.
Ia juga memperingatkan bahwa penggunaan plastik non-standar berpotensi menimbulkan risiko kesehatan akibat residu bahan kimia dari nafta.
Stok dan Harga Kedelai Dipastikan Aman
Di tengah kendala tingginya harga kemasan plastik, Disperindag memastikan bahwa rantai pasok bahan baku utama, yakni kedelai impor, tetap dalam kondisi stabil dan aman.
Berdasarkan hasil pemantauan pemerintah daerah, dengan harga Kedelai, saat ini berada di angka Rp10.000 per kilogram, jauh di bawah harga acuan pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp12.000 per kilogram.
Ketersediaan Stok, cadangan kedelai di Lampung terbilang sangat mencukupi. Salah satu pemasok, PT Budi Andalan Group, tercatat memiliki cadangan hingga 500 ton kedelai impor.
“Dengan harga kedelai yang stabil di bawah harga acuan, artinya pelaku usaha masih memiliki ruang untuk menjaga harga jual tempe dan tahu agar tidak naik di pasaran,” pungkas Zimmi. (*)






