Mediasi Buntu, Mantan Karyawan MCF Bandar Lampung Siap Gugat Pesangon ke PHI

- Editor

Kamis, 5 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Upaya mediasi antara mantan karyawan perusahaan pembiayaan MCF, Sindi Yoanita Putri dan Ahmad Yunus dengan pihak manajemen MCF Bandar Lampung berakhir tanpa kesepakatan (deadlock). 

Sindi menyatakan, kesiapannya untuk membawa sengketa ketenagakerjaan ini ke jalur hukum melalui Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Karang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perselisihan ini dipicu oleh penolakan pihak perusahaan untuk membayar hak pesangon secara langsung.

Dalam proses mediasi yang melibatkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Sindi menuntut hak berupa pesangon sembilan bulan gaji dan uang penghargaan masa kerja (UPMK) selama lima bulan, dengan total mencapai 14 bulan gaji pokok, ditambah penggantian sisa cuti.

“Jawaban dari mereka harus ada persetujuan persidangan, karena yang sudah-sudah kasus di MCF memang seperti itu,” ujar Sindi, menjelaskan alasan pihak perusahaan yang bersikeras menunggu putusan tetap pengadilan sebelum melakukan pembayaran, Kamis (5/3).

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Kadisnaker) Provinsi Lampung, Agus Nompitu, melalui Kabid Hubungan Industrial, Sariyo, mengatakan, pihaknya telah melakukan pemanggilan klarifikasi kepada kedua belah pihak. Namun, pertemuan tersebut belum membuahkan kesepakatan.

“Kami sudah lakukan panggilan klarifikasi ke para pihak, namun belum ada kesepakatan. Rencananya akan dilanjutkan kembali mediasi pada minggu depan,” kata Sariyo saat dikonfirmasi.

Sariyo menambahkan, apabila mediasi tetap tidak mencapai titik temu, mediator akan mengeluarkan anjuran tertulis. Dokumen tersebut merupakan syarat formil bagi pihak pekerja untuk mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial sebagaimana diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2004.

Saat ini, Sindi bersama rekannya, Yunus, yang mengalami nasib serupa, tengah menunggu hasil resmi dari Disnaker.

Mereka memberikan tenggang waktu selama satu minggu bagi pihak manajemen untuk memberikan keputusan akhir sebelum resmi melayangkan gugatan ke bagian administrasi pengadilan.

Kasus PHK ini sebelumnya sempat viral di media sosial dan menjadi sorotan publik karena menyangkut pemenuhan hak normatif pekerja di sektor pembiayaan. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Razia Operasi Patuh Krakatau 2026, Satlantas Polres Tanggamus Jaring 134 Pelanggar!
Gegara Tak Terima Anak Dinasehati, Pria Bawa Golok Ancam Warga di Bukit Kemuning Diciduk Polisi!
225 Sekolah Jadi Sampel! BPK Periksa Pengelolaan Dana BOSP Lampung Selatan
Hujan Turun di Way Kambas, Petugas Karhutla Sujud Syukur
Polisi Sita 8.400 Liter Solar Subsidi di Katibung, Tiga Orang Jadi Tersangka!
Momen Langka! Induk Harimau Sumatera dan Tiga Anaknya Terekam saat Makan di TN Way Kambas
76 Kali Gempa Guncang Tanggamus dalam 2 Hari, BMKG Catat Magnitudo Tertinggi Tembus 4,7!
Mobil Grandmax Digelapkan lalu Digadaikan, Dua Pelaku Diringkus Polsek Padang Cermin, Korban Rugi Rp60 Juta!
Berita ini 101 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:51 WIB

Razia Operasi Patuh Krakatau 2026, Satlantas Polres Tanggamus Jaring 134 Pelanggar!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Gegara Tak Terima Anak Dinasehati, Pria Bawa Golok Ancam Warga di Bukit Kemuning Diciduk Polisi!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:25 WIB

225 Sekolah Jadi Sampel! BPK Periksa Pengelolaan Dana BOSP Lampung Selatan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:16 WIB

Hujan Turun di Way Kambas, Petugas Karhutla Sujud Syukur

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:11 WIB

Momen Langka! Induk Harimau Sumatera dan Tiga Anaknya Terekam saat Makan di TN Way Kambas

Berita Terbaru

DAERAH

Hujan Turun di Way Kambas, Petugas Karhutla Sujud Syukur

Kamis, 29 Okt 2026 - 10:16 WIB