Antara Konservasi dan Isi Perut: Ribuan Petani Unjuk Rasa di TN Way Kambas

- Editor

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Lampung Timur – Matahari di langit Lampung Timur belum lagi tegak lurus ketika riuh suara manusia memecah keheningan di gerbang Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Selasa pagi (14/11). 

Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Desa Penyangga tidak datang untuk berwisata. Mereka hadir membawa luka lama yang kembali menganga, konflik menahun antara manusia dan sang penguasa rimba, gajah sumatera. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sambil melangkah dalam barisan long march, massa membentangkan berbagai poster yang menyuarakan kegelisahan mereka. “Stop Konflik Gajah dan Manusia” dan “Kami Hanya Ingin Melindungi Ladang Kami” menjadi pesan utama yang diusung.

Namun, ada satu pemandangan yang menyayat hati, poster wajah almarhum Darusman, mantan Kepala Desa Braja Asri, turut diarak. Darusman adalah pengingat nyata betapa mahalnya harga yang harus dibayar warga, ia tewas diamuk gajah pada Desember 2025 silam saat mencoba menyelamatkan tanaman warga.

​Bagi masyarakat desa penyangga, gajah bukanlah musuh yang harus dibasmi. Hal ini ditegaskan oleh Eko Waluyo, salah satu orator yang suaranya bergetar menahan emosi. Ia menekankan bahwa warga sangat memahami arti konservasi dan konsekuensi hukum jika menyakiti satwa yang dilindungi itu.

​”Gajah itu hidup bersama kami. Kami tahu cara berdampingan, dan kami tahu cara melindunginya. Tapi hingga hari ini, kami tidak pernah menggunakan senjata karena kami menghormati hukum. Namun, sampai kapan ladang kami terus menjadi tumbal?” seru Eko di hadapan massa.

​Ia menambahkan bahwa tuntutan warga sebenarnya sederhana namun mendasar: kepastian. Mereka meminta langkah nyata dan berkelanjutan dari pihak otoritas agar konflik ini tidak terus berulang seperti lingkaran setan. “Jangan sampai kesabaran kami benar-benar habis,” tegasnya, sebuah peringatan halus namun tajam bagi para pemangku kebijakan.

Warisan Konflik yang Tak Kunjung Usai

​Persoalan ini memang bukan barang baru. Budi, orator lainnya, menceritakan bagaimana konflik ini telah menjadi “warisan” turun-temurun. Sejak ia lahir, bayang-bayang gajah liar yang masuk ke permukiman telah menjadi bagian dari keseharian yang mencekam.

​”Kami sudah berkonflik sejak lahir. Kepala desa kami jadi korban, orang tua kami jadi korban. Kami hanya ingin hidup tenang di tanah kami sendiri tanpa harus takut kehilangan nyawa atau mata pencaharian saat fajar menyingsing,” ungkap Budi dengan nada getir.

Di sisi lain, aparat keamanan dari Polres Lampung Timur dan Kodim 0429 bersiaga penuh namun tetap mengedepankan pendekatan humanis.

Kapolres Lampung Timur, AKBP Heti Patmawati, turun langsung memantau jalannya aksi. Ia memberikan ruang seluas-luasnya bagi warga untuk menumpahkan keluh kesah yang selama ini terpendam.

​”Silakan sampaikan aspirasi dan orasi dengan tertib. Kami di sini untuk mengawal agar semua pesan sampai ke tujuan dengan aman,” ujar AKBP Heti, mengapresiasi kedewasaan massa yang melakukan aksi secara damai meski membawa tuntutan yang berat.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap ada solusi konkret dari pihak Balai TNWK, bukan sekadar janji di atas kertas atau seremoni tanpa realisasi. Sebab bagi warga desa penyangga, rimba Way Kambas seharusnya menjadi berkah, bukan sumber nestapa yang tak kunjung reda. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Korupsi KUR Rp2,99 Miliar, Kejari Tetapkan Eks Karyawan Bank Lampung Jadi DPO!
Robohkan Gubuk dan Kebun Warga di Tulang Bawang, Wabup Kecam Aksi Pam Swakarsa PT ILP!
Polisi Ungkap Hasil Autopsi  Jasad Lilis Pitriani, dari Luka Tajam hingga Tanda Asfiksia
Rohadi Alcantara Laporkan Balik Subehi Bin Ismail Atas UU ITE, Adukan Kasatreskrim dan Penyidik Polres Tanggamus ke Propam!
Niat Tagih Arisan Malah Jadi Tersangka, Diminta Uang Damai Rp100 Juta! Emak-emak di Pesawaran Datangi Polres Naik Pikap
Usai Temuan Kerangka Manusia di Pesawaran, Polisi Sisir Laporan Orang Hilang 2 Tahun Terakhir dan Lakukan Tes DNA
Anggaran Makan Napi Rutan Sukadana Diduga Dikorupsi, Pengawasan Kanwil Ditjenpas Lampung Dinilai Mandul!
Razia Operasi Patuh Krakatau 2026, Satlantas Polres Tanggamus Jaring 134 Pelanggar!
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:45 WIB

Korupsi KUR Rp2,99 Miliar, Kejari Tetapkan Eks Karyawan Bank Lampung Jadi DPO!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:41 WIB

Robohkan Gubuk dan Kebun Warga di Tulang Bawang, Wabup Kecam Aksi Pam Swakarsa PT ILP!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:33 WIB

Polisi Ungkap Hasil Autopsi  Jasad Lilis Pitriani, dari Luka Tajam hingga Tanda Asfiksia

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:48 WIB

Rohadi Alcantara Laporkan Balik Subehi Bin Ismail Atas UU ITE, Adukan Kasatreskrim dan Penyidik Polres Tanggamus ke Propam!

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:34 WIB

Usai Temuan Kerangka Manusia di Pesawaran, Polisi Sisir Laporan Orang Hilang 2 Tahun Terakhir dan Lakukan Tes DNA

Berita Terbaru