Caption : ist
Hariannarasi.com, Surabaya – Ditengah riuh perayaan akademis Dies Natalies ke-65 ITS Surabaya, sebuah suara bernada berat dan penuh kewaspadaan mengemuka.
Bukan sekadar orasi ilmiah biasa, Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan kegelisahan strategisnya, jika dunia sedang tidak baik-baik saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi SBY, kondisi geopolitik global saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Ia melihat adanya potensi eskalasi tak terkendali antar negara-negara adidaya (super power) yang dapat memicu konflik dalam skala yang tak terbayangkan.
”Kalau tidak dihentikan, pertama sangat mungkin terjadi peperangan yang lebih besar,” ujar SBY dengan nada tegas di hadapan civitas academica ITS, Selasa (11/11).
Puncaknya, SBY melontarkan sebuah prediksi yang membuat hadirin terdiam: “World War III sangat mungkin terjadi, sangat mungkin,” ungkapnya.
Analisis Seorang Jenderal
Peringatan ini bukan sekadar retorika seorang pensiunan presiden. SBY segera meletakkan kredensialnya di atas meja, mengingatkan audiens akan latar belakangnya yang mumpuni di bidang pertahanan dan hubungan internasional.
”Saya jenderal, saya ngerti geopolitik, saya ngerti hubungan internasional, saya mengerti peace and security,” tandasnya.
Pernyataan ini adalah sebuah penegasan bahwa analisisnya didasarkan pada kalkulasi dan pengalaman panjang, bukan asumsi sesaat.
Latar belakangnya sebagai jenderal dan rekam jejaknya selama satu dekade memimpin Indonesia memberinya perspektif unik tentang betapa rapuhnya perdamaian global saat ini.
Apa yang tidak ia sebutkan secara eksplisit, namun tersirat, adalah peringatan bahwa segala sesuatu dapat terjadi kapan saja. “Anytime, bad things, can happen,” ungkapnya.
Orasi ilmiah di Surabaya ini, pada akhirnya, menjadi sebuah mimbar bagi SBY untuk menyuarakan apa yang mungkin menjadi kecemasan terpendam banyak pemimpin dunia.
Ini adalah wanti-wanti dari seorang negarawan senior bahwa api kecil dari ketegangan geopolitik saat ini, jika dibiarkan, sangat mungkin menjelma menjadi kebakaran global. Sebuah pesan yang jelas dari Cikeas, jangan anggap remeh situasi saat ini. (*)






