Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Di tengah kompetisi global memperebutkan peluang kerja lintas negara, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah taktis nan strategis.
Bukan sekadar mengirim tenaga kerja, Lampung berambisi membangun ekosistem persiapan SDM yang matang untuk menembus pasar industri Jepang yang dikenal ketat, keseriusan ini terekam jelas di ruang kerja Gubernur Lampung, Kamis (4/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, didampingi Wakil Gubernur Jihan Nurlela, menerima kunjungan penting dari Japan Association for Construction (JAC). Senior Executive Director JAC, Yugo Okamoto, hadir langsung untuk membedah peta jalan pengiriman tenaga kerja konstruksi dari Lampung ke Negeri Sakura.
Pertemuan ini bukan sekadar seremonial. Hadirnya jajaran Pemprov mulai dari Asisten Perekonomian Mulyadi Irsan, Kadis Pendidikan Thomas Amirico, Kadis Tenaga Kerja Agus Nompitu, hingga Kepala BP3MI Ahmad Fauzi, menunjukkan bahwa Lampung tidak main-main dalam menerjemahkan arahan Presiden terkait percepatan penyiapan tenaga kerja luar negeri.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat namun serius tersebut, benang merah kebutuhan kedua belah pihak terurai. Jepang tengah bergulat dengan krisis demografi yang menyebabkan defisit tenaga kerja, terutama di sektor konstruksi yang selama ini didominasi pekerja dari Vietnam. Di sisi lain, Lampung memiliki bonus demografi yang melimpah.
Yugo Okamoto secara terbuka mengapresiasi ‘jemput bola’ yang dilakukan Lampung. Ia mengakui, sektor konstruksi di negaranya membutuhkan suntikan tenaga segar yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki mentalitas yang tepat.
”Kami melihat Bapak Gubernur memiliki semangat yang tinggi. Kami tidak melihat pekerja sekadar sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai keluarga. Mereka akan kami beri pendidikan dan pelatihan agar lebih bermanfaat,” ujar Okamoto, menegaskan pendekatan humanis yang diusung JAC.
Namun, ambisi besar ini bukannya tanpa celah. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memaparkan realitas di lapangan dengan transparan. Pemprov dan JAC membahas empat isu krusial, yakni kesiapan migrant center, klasterisasi pekerja konstruksi, ketersediaan guru bahasa, serta pelatihan teknis.
Fakta menarik terungkap, antusiasme generasi muda Lampung terhadap Jepang sangat meledak. Sejak Agustus lalu, program kelas bahasa Jepang yang diinisiasi Pemprov di 300 SMA/SMK telah menjaring 8.500 siswa.
”Namun, saat ini kita baru memiliki 60 guru bahasa Jepang. Mereka kami rekrut dari eks-pemagang (Kenshusei) atau lulusan sastra Jepang,” akui Gubernur yang akrab disapa Iyay Mirza ini. Ketimpangan rasio antara ribuan peminat dan minimnya pengajar inilah yang menjadi pekerjaan rumah utama yang dibahas untuk dicarikan solusi teknisnya bersama JAC.
Mengapa Jepang?
Dalam pandangan Gubernur, Jepang bukan sekadar destinasi ekonomi, melainkan kawah candradimuka yang ideal bagi pemuda Lampung. Ada transfer etos kerja dan teknologi yang dibawa pulang.
”Jepang adalah negara yang paling pas. Mereka yang kembali selalu bercerita tentang perlakuan baik, lingkungan kerja yang tidak rasis, serta perkembangan ekonomi dan skill yang terasa,” tegas Gubernur.
Pertemuan bilateral ini ditutup dengan komitmen kuat untuk mencari win-win solution. Bagi Lampung, ini adalah langkah awal untuk tidak hanya menjadi penyumbang devisa, tetapi menaikkan kelas tenaga kerjanya dari sekadar buruh kasar menjadi tenaga terampil yang diperhitungkan di kancah global.
“Kami sudah memulainya lebih dulu, sehingga Lampung siap berkontribusi lebih besar,” pungkas Gubernur optimis. (*)






