Caption : ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Operasional reaktor nuklir di Serpong terancam berhenti total pada tahun 2026. Ancaman ini muncul akibat terhentinya pasokan bahan bakar nuklir menyusul belum tuntasnya proses pengalihan aset dari PT Industri Nuklir Indonesia (INUKI) ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Zainal Arifin, mengungkapkan bahwa ketersediaan bahan bakar saat ini berada dalam kondisi kritis. Tanpa penyelesaian segera terkait status INUKI, reaktor tersebut diprediksi tidak akan dapat beroperasi melewati tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan tidak adanya INUKI, maka pasokan bahan bakar nuklir di reaktor Serpong terhenti. Kemungkinan tahun ini adalah tahun terakhir bisa beroperasi karena tidak adanya bahan bakar nuklir,” ujar Zainal dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (10/2).
Zainal menjelaskan bahwa INUKI merupakan satu-satunya produsen elemen bahan bakar nuklir untuk reaktor Serpong. Saat ini, BAPETEN terus melakukan inspeksi intensif di lingkungan INUKI sembari menunggu kejelasan proses pengalihan aset ke BRIN serta berkomunikasi dengan kereta api (KA) terkait penyelesaian masalah ini.
Sebelumnya, Direktur Utama PT INUKI, R. Herry, menjelaskan bahwa perusahaan telah berhenti berproduksi sejak Agustus 2022. Permasalahan bermula dari sengketa lahan pabrik dan biaya sewa yang membebani perusahaan, hingga akhirnya Kementerian BUMN menyetujui pengalihan aset ke BRIN pada September 2022.
Namun, proses hibah aset senilai Rp 20,9 miliar tersebut terkendala setelah BRIN mencabut permohonan pengalihan aset. Hambatan utama disinyalir berkaitan dengan biaya dekontaminasi fasilitas yang dinilai tidak sebanding dengan nilai hibah yang diterima.
Kondisi ini menjadi sorotan serius mengingat posisi strategis reaktor Serpong dalam pengembangan teknologi nuklir nasional. Zainal menekankan pentingnya keberlanjutan operasional reaktor tersebut bagi citra dan kemandirian teknologi Indonesia di mata dunia. (*)






