Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Institut Teknologi Sumatera (ITERA) resmi menerima hibah lahan seluas 87 hektare yang berlokasi di Pekon Sindang Pagar, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat.
Lahan tersebut dialihkan pengelolaannya dari Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk mendukung pengembangan riset dan pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses serah terima aset berlangsung di Ruang Rapat Gedung A Itera, Rabu (28/1). Penyerahan dilakukan oleh Kepala Biro Keuangan dan BMN Kemdiktisaintek, Dr. Agus Sunarya Sulaeman, kepada Rektor Itera Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, disaksikan oleh Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus dan perwakilan pimpinan Universitas Brawijaya.
Rektor ITERA, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, menyatakan bahwa lahan ini memiliki nilai strategis bagi pengembangan kampus sekaligus pembangunan daerah.
ITERA berencana menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
“Hibah ini adalah langkah strategis. Kedepan, kami akan tetap melibatkan Universitas Brawijaya dalam kolaborasi riset agar manfaat lahan ini semakin luas bagi ilmu pengetahuan,” ujar Prof. Nyoman.
Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, menyambut baik peralihan pengelolaan ini. Ia berharap ITERA dapat memanfaatkan lahan produktif tersebut sebagai laboratorium alam bagi dosen dan mahasiswa, mengingat lokasinya yang strategis di dekat pusat pemerintahan dan akses jalan utama.
Kawasan tersebut dikelilingi berbagai potensi pendukung, antara lain:
1. Sektor Edukasi: Keberadaan Sekolah Kopi.
2. Sektor Pariwisata: Wisata arung jeram Sungai Way Besai.
3. Sektor Energi: Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) dan PLTA.
“Kami berharap kehadiran ITERA di Lampung Barat dapat memperkuat tiga komitmen daerah, yaitu konservasi, literasi, dan ketangguhan bencana,” kata Parosil.
Alasan Pengalihan Aset
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya UB, Prof. Dr. Muchamad Ali Safa’at, menjelaskan bahwa lahan tersebut sebelumnya merupakan lokasi riset dosen UB. Namun, jarak geografis yang jauh dari Malang membuat pengelolaan kurang optimal.
“Dengan dikelola oleh Itera yang jaraknya lebih dekat secara geografis, kami yakin pemanfaatan lahan ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan akan jauh lebih maksimal,” jelas Prof. Ali Safa’at.
“Kepala Biro Keuangan dan BMN Kemdiktisaintek, Dr. Agus Sunarya Sulaeman, menambahkan bahwa meskipun secara kepemilikan merupakan aset kementerian, Itera diberikan kewenangan penuh dalam pengelolaannya.
Dirinya mendorong terciptanya ekosistem akademik yang kuat melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan industri. (*)






