Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Mesuji – Kericuhan pecah di kawasan perkebunan kelapa sawit Mesuji menyusul memuncaknya sengketa lahan antara warga transmigran dan PT Pematang Agri Lestari (PT PAL).
Konflik terbuka ini merupakan imbas dari akumulasi kekecewaan warga atas ketidakjelasan status lahan seluas 3.000 hektare yang diklaim telah dipatok warga sejak 1992, namun kini masuk dalam Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan di lapangan bermula ketika massa mengambil alih area dengan mendirikan tenda dan memportal jalan akses utama kebun.
Aksi pendudukan ini dilakukan untuk melumpuhkan total aktivitas pemanenan dan distribusi buah sawit PT PAL, yang dinilai warga sebagai bentuk protes keras atas lambatnya proses diplomasi penyelesaian sengketa.
Situasi memanas dan berujung pada pelemparan armada water cannon milik kepolisian oleh massa.
Insiden ini ditengarai dipicu oleh kesalahpahaman di lapangan. Pihak kepolisian awalnya mengerahkan armada tersebut untuk memadamkan titik api yang muncul di area perkebunan.
Namun, massa yang tengah siaga menduga kedatangan aparat bertujuan untuk mengawal truk pengangkut kelapa sawit milik perusahaan menembus blokade warga.
Kemarahan kolektif massa tidak hanya didasari oleh klaim HGU, tetapi juga diperparah oleh isu penahanan dokumen administratif.
Sejumlah warga menuding pihak perusahaan masih menahan sertifikat fisik tanah milik para transmigran, sebuah klaim yang menambah eskalasi ketegangan sosial di lokasi.
Meski sempat diwarnai aksi unjuk kekuatan, benturan fisik yang lebih luas berhasil dihindari.
Pihak kepolisian dibantu oleh Pemerintah Daerah setempat langsung merespons situasi dengan menggelar mediasi persuasif di lapangan.
Melalui negosiasi tersebut, aparat akhirnya berhasil meredakan emosi warga dan menarik mundur massa dari lokasi pendudukan, sehingga situasi di kawasan perkebunan berangsur kondusif. (*)
Berikut video lengkapnya:






