Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Lampung Selatan – Pencurian delapan unit aki dan kerusakan belasan panel surya mengakibatkan sistem pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) tidak beroperasi maksimal.
Akibat defisit daya listrik, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terpaksa menonaktifkan sebagian sensor pemantau gunung api tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Pos Pantau GAK Lampung Selatan, Suwarno, mengonfirmasi hilangnya delapan aki tersebut.
Fakta ini terungkap saat tim teknisi turun langsung ke kawasan GAK untuk memperbaiki peralatan yang bermasalah pada Minggu (27/9/2026).
Guna menyiasati keterbatasan daya, petugas saat ini hanya memasang dua unit aki untuk menghidupkan instrumen yang paling vital.
”Kemarin kita pasang dua aki untuk menyalakan sensor seismik, CCTV, dan radio telemetri yang sempat rusak akibat erupsi. Untuk sebagian sensor dan peralatan lain terpaksa tidak dipasang dulu karena sistem catu dayanya tidak cukup,” tegas Suwarno, Senin (28/9/2026).
Selain pencurian aki, tim juga melaporkan kerusakan parah pada infrastruktur kelistrikan lainnya.
Sebanyak 11 unit panel surya ditemukan hancur, yang diduga kuat akibat hantaman material vulkanik saat GAK mengalami erupsi. Kini, hanya tersisa tiga unit panel surya yang masih berfungsi.
Sebelumnya, laporan awal mengenai hilangnya aki terkendala oleh sulitnya akses komunikasi di kawasan gunung api aktif tersebut.
Suwarno menyebutkan, perbaikan dan pemulihan sistem kelistrikan secara menyeluruh sangat mendesak dilakukan agar seluruh perangkat pemantauan kebencanaan ini dapat kembali beroperasi normal. (*)






