Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Metro – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Metro, Lampung, diduga kerap memanipulasi pengawasan dan inspeksi mendadak (sidak) dari pemerintah pusat maupun instansi terkait guna menutupi dugaan penyelewengan anggaran tahun 2026 senilai Rp4,9 miliar.
Dugaan ini mencuat setelah adanya laporan terkait rekayasa kondisi Lapas menjelang jadwal pemeriksaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan keterangan sumber internal, pihak Lapas diduga sering mendapat bocoran jadwal kunjungan pejabat atau tim pemeriksa.
Menjelang sidak, Lapas akan memberlakukan sistem area steril dengan menyita seluruh barang terlarang, termasuk telepon seluler, dari tangan warga binaan agar tidak menjadi temuan.
Selain penertiban barang, kualitas makanan warga binaan juga direkayasa. Jatah makan harian yang pada hari biasa dikeluhkan tidak layak konsumsi, secara mendadak diubah menjadi menu berkualitas dengan porsi melimpah saat jadwal pemeriksaan berlangsung.
Rekayasa kelayakan Lapas ini diduga kuat sebagai upaya menutupi realisasi anggaran pemeliharaan dan pemenuhan kebutuhan warga binaan tahun 2026 yang mencapai total Rp4.984.006.000.
Dari total tersebut, alokasi pemeliharaan fasilitas Lapas sebesar Rp708.166.000 diduga tidak terealisasi secara maksimal, karena pengerjaan di lapangan hanya sebatas pengecatan gedung bagian depan yang nilainya diperkirakan jauh di bawah pagu anggaran.
Sementara itu, alokasi Rp3.978.500.000 untuk pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan juga sarat kejanggalan.
Pengadaan peralatan makan-minum yang dianggarkan Rp140.000 per orang hanya direalisasikan dalam bentuk satu piring, gelas, dan sendok berbahan plastik.
Untuk perlengkapan mandi, warga binaan hanya mendapatkan pasta gigi ukuran kecil, sikat gigi, sabun, dan sampo eceran, bahkan banyak napi tidak mendapatkan peralatan mandi sebagaimana yang seharusnya mereka dapatkan.
Kejanggalan lain ditemukan pada pengadaan pakaian. Dengan anggaran Rp172.560.000 yang ditujukan untuk 1.880 pakaian bagi 545 warga binaan, faktanya masing-masing penghuni hanya menerima satu setel pakaian.
Buruknya kualitas makanan harian juga membuat mayoritas warga binaan terpaksa menggunakan dana pribadi untuk membeli makanan di kantin Lapas.
Terkait deretan dugaan manipulasi dan penyelewengan anggaran ini, Kepala Lapas Kelas IIA Metro belum memberikan keterangan resmi.
Upaya konfirmasi yang diajukan oleh awak media, termasuk pesan melalui aplikasi WhatsApp, hingga saat ini diabaikan oleh yang bersangkutan. (*)






