Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Ramadan selalu punya cara tersendiri untuk mengetuk sisi paling lembut dari kemanusiaan kita.
Ditengah hiruk-pikuk kota yang mulai melambat menjelang azan Magrib, sebuah suasana hangat justru membuncah dibalik dinding Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Budi Asih, Kota Bandar Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Disana, terlihat Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela menyambangi PSAA Budi Asih. Bukan sekadar urusan membatalkan lapar dan dahaga, melainkan sebuah ikatan kekeluargaan yang sedang dirajut kembali.
Sore itu, suasana panti tak seperti hari biasanya. Wajah-wajah mungil para penghuni panti tampak berseri. Ada binar yang tak bisa disembunyikan saat mereka menyambut kedatangan para tamu yang datang membawa lebih dari sekadar nasi kotak, yakni perhatian dan kasih sayang yang tulus.
Acara buka puasa bersama yang digelar Pemprov Lampung ini menjadi oase ditengah rutinitas Ramadan. Bagi anak-anak di Panti Budi Asih, kehadiran sosok Wagub Jihan, yang mau duduk bersila di lantai yang sama, berbagi cerita, dan melempar tawa adalah sebuah kemewahan batin.
Inilah potret nyata bahwa indahnya Ramadan justru terletak pada seberapa luas kita mampu membuka hati untuk berbagi kebahagiaan.
“Kebersamaan ini adalah energi bagi kami. Melihat senyum mereka saat berbuka adalah pengingat bahwa di setiap rezeki yang kita miliki, ada hak mereka yang harus ditunaikan,” ujar Jihan dengan nada yang rendah namun penuh penekanan.
Ritual berbuka diawali dengan doa yang dipimpin dengan khidmat. Saat beduk bertalu dan azan menggema, suasana berubah menjadi syahdu.
Segelas air dan manisnya takjil menjadi pelengkap syukur yang tiada tara. Tak ada sekat antara donatur, pengurus panti, maupun anak-anak asuh. Semuanya menyatu dalam satu meja persaudaraan.
Lebih dari sekadar seremoni tahunan, kegiatan ini seolah mengirimkan pesan kuat ke publik, bahwa panti asuhan bukanlah tempat yang terisolasi dari dunia luar.
Panti adalah rumah bagi masa depan, dan anak-anak didalamnya adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan sentuhan kasih secara berkelanjutan, bukan hanya saat bulan suci tiba.
Di PSAA Budi Asih, senja itu bukan hanya menyisakan perut yang kenyang, tapi juga jiwa yang tenang. Ramadan kali ini kembali membuktikan bahwa kebahagiaan paling murni adalah saat kita mampu melihat orang lain tersenyum karena kehadiran kita.
Ketika lampu-lampu jalan mulai benderang dan para tamu berpamitan, lambaian tangan anak-anak panti itu seolah menitipkan harapan, bahwa mereka tidak sendirian dalam meniti mimpi.
Dan disana, diantara sisa-sisa aroma hidangan buka puasa, kehangatan itu masih tertinggal, menjaga api semangat di Budi Asih tetap menyala. (*)






